Presiden Turki Tayyip Erdogan menuding ulama Fethullah Gulen mendalangi kudeta yang menewaskan 232 orang tersebut. Turki juga meminta Amerika Serikat mengekstradisi Gulen yang kini berada Pennsylvania.
Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menuding Washington—yang menyatakan akan mempertimbangkan ektstradisi jika ada bukti—memiliki kebijakan standar ganda dalam perang melawan terorisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 1.400 orang terluka ketika militer mencoba merebut parlemen, markas besar intelijen, bandara dan jembatan Istanbul dalam percobaan kudeta.
Setelah itu, otoritas Turki memecat atau menangkap hampir 20 ribu tentara, polisi, hakim, dan pegawai negeri sipil yang dianggap terlibat upaya kudeta.
Mengasingkan diri dari Turki, Gulen sendiri adalah kawan yang berakhir menjadi lawan bagi pemerintahan Erdogan.
Gulen adalah warga Turki, seorang mantan imam, penulis sekaligus tokoh politik. Pria 75 tahun ini membentuk gerakan politik keagamaan bernama gerakan Gulen, atau yang dikenal dengan nama Hizmet di Turki.
Mengaku bermazhab Hanafi, Gulen menekankan pengajarannya dengan memadukan agama dengan ilmu pengetahuan alam, mendorong dialog antar agama, serta demokrasi multi partai. Dia menginisiasi dialog dengan Vatikan dan organisasi-organisasi Yahudi. (stu)