Walau Krisis, Venezuela Tetap Gelar KTT Gerakan Non-Blok

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 01/09/2016 19:01 WIB
Walau Krisis, Venezuela Tetap Gelar KTT Gerakan Non-Blok Di tengah krisis ekonomi, Venezuela menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok pada 17-18 September mendatang. (Reuters/Carlos Garcia Rawlins)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah krisis ekonomi, Venezuela menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok pada 17-18 September mendatang.

Upaya persiapan Venezuela untuk menggelar konferensi ini pun diapresiasi oleh Direktur Sosial Budaya Organisasi Internasional Negara Berkembang Kementerian Luar Negeri, Arko Hananto.

"Kami mengapresiasi upaya Venezuela untuk tetap mengadakan KTT. Mereka bahkan membangun gedung convention center khusus hanya untuk KTT ini," ujar Arko dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (1/9).


Menurut Arko, Venezuela bahkan menyiapkan pesawat charter untuk mengantar para pemimpin negara peserta KTT GNB dari Caracas menuju tempat acara digelar di Pulau Margarita.

Sementara itu, warga Venezuela masih menderita, bahkan sempat menggelar unjuk rasa akibat kekurangan makanan.

Hancurnya perekonomian Venezuela disumbang sebagian besar oleh terpuruknya harga minyak yang mencapai angka terendah dalam 12 tahun. Ekonomi Venezuela sangat mengandalkan sektor ini.

Selain itu, nilai tukar mata uang Venezuela, bolivares, terhadap dolar hampir tidak ada nilainya. Satu bolivares hanya seharga US$0,0011.

Perekonomian Venezuela menyusut 7,1 persen pada kuartal ketiga tahun lalu. Angka penyusutan berlanjut dalam tujuh kuartal sebelumnya dari awal 2014.

Inflasi di Venezuela meroket 141 persen di akhir 2015. Tahun ini, IMF memprediksi inflasi di negara itu mencapai 204 persen.

Akibat permasalahan ekonomi ini, KTT GNB yang seharusnya diadakan pada 2015 terpaksa ditunda menjadi tahun ini.

Dalam konferensi ini sendiri, akan dibahas solidaritas untuk memperkuat kemandirian anggota lainnya sesuai dengan akar pemikiran berdirinya GNB yang cikal bakalnya mulai terbentuk pada Konferensi Asia Afrika.

Menurut Arko, keadaan sebagian anggota dari 120 peserta KTT GNB ini masih tak jauh berbeda dari ketika gerakan ini terbentuk pada era 1960-an.

Untuk membahas masalah tersebut, Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kala (JK), akan memberikan pernyataan resmi dalam debat umum KTT GNB.

"Sampai sekarang isinya masih terus digodok, tapi intinya adalah tantangan yang dihadapi negara berkembang sekarang seperti apa dan bagaimana yang diinginkan," kata Arko.

KTT GNB ini akan menghasilkan tiga dokumen akhir, yaitu yang mengangkat isu politik global dan pembangunan; Deklarasi Margarita; dan deklarasi komitmen mengenai Palestina (den)