Wiranto mengatakan, kerja sama itu untuk menindaklanjuti pertemuan sebelumnya. Menurutnya, pemerintah RI dan Rusia telah menandatangani lima perjanjian. Salah satunya mengenai pengamanan informasi di kedua negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedua negara memandang perlu ada satu pembicaraan lebih luas soal keamanan negara masing-masing sekaligus keamanan kawasan," tambah dia.
Wiranto mengatakan, penanggulangan terorisme saat ini menjadi kewajiban setiap negara. Dalam hal ini, menurutnya, Indonesia telah melakukan langkah yang lebih maju lantaran telah mengumpulkan 36 negara di Bali untuk membicarakan counter terorisme, Agustus lalu.
Pertemuan itu telah menghasilkan kesepakatan bersama di antara perwakilan negara yang hadir mengenai penanggulangan terorisme. Beberapa di antaranya adalah upaya meningkatkan pengamanan siber.
Perjanjian bilateral dan multilateral perlu dilakukan antarnegara untuk menyelesaikan persoalan terorisme di perbatasan. Perjanjian itu salah satunya sebagai upaya untuk memotong jalur keuangan terorisme.
"Berikutnya bagaimana kita bersama-sama menetralisir sumber dari terorisme, seperti kemiskinan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan. Itu makanan empuk tokoh terorisme dunia," kata Wiranto.
Dia mengatakan, program yang telah disepakati oleh 36 negara di Bali akan diperluas dengan negara lain, termasuk Rusia. Perluasan itu menurutnya, untuk memperkaya metode dalam penanggulangan terorisme di masing-masing negara.
"Supaya banyak metode yang sama dari banyak negara. Setiap saya bertemu pimpinan negara lain saya ajak untuk bergabung," ujar Wiranto. (den)