Penghargaan Nobel Perdamaian didapatkan Santos setelah pemerintahannya berhasil mengakhiri 52 tahun konflik internal melawan FARC.
Santos berjanji akan menghidupkan kembali rencana perdamaian walaupun sejumlah masyarakat Kolombia menolak perjanjian damai melalui referendum Senin lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hadiah ini juga harus dilihat sebagai penghargaan bagi warga Kolombia," tutur Ketua Panitia Norwegian Nobel Kaci Kullmann Five saat mengumumkan pemenang seperti dikutip Reuters, Jumat (7/10).
"Mayoritas masyarakat yang memilih tidak setuju pada perjanjian damai tidak menandakan proses perdamaian menjadi terhambat," kata Five.
Penganugerahan hadiah Nobel ini, ucap Five, justru bisa menjadi landasan bagi kedua belah pihak yakni pemerintah Kolombia dan kelompok FARC untuk menjaga perdamaian.
Kolombia menandantangani perjanjian damai dengan FARC pada Agustus lalu setelah melalui perundingan panjang selama empat tahun di Kuba. Perjanjian ini sekaligus mengakhiri pemberontakan kelompok Marxis itu yang telah berlangsung selama setengah abad dan menewaskan sekitar 250 ribu orang.
Untuk pertama kalinya, Santos berjabat tangan dengan pemimpin FARC Rodrigo Londono setelah perjanjian damai ditandatangani dengan pulpen dari selongsong peluru.
“Malam kelam penuh kekerasan yang telah menyelimuti kita dengan bayangannya selama lebih dari setengah abad sudah berakhir,” kata Santos saat itu. “Kita membuka hati kita ke pagi yang baru, menuju matahari yang penuh akan kemungkinan yang telah terbit di langit Kolombia.” (den)