Jerman Khawatir Rusia Picu Perlombaan Senjata di Eropa

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Jumat, 25/11/2016 14:39 WIB
Negara-negara Eropa yang digawangi Jerman berupaya menggodok kesepakatan pengendalian senjata dengan Rusia karena dianggap sebagai ancaman keamanan di kawasan. Negara-negara Eropa yang digawangi Jerman berupaya menggodok kesepakatan pengendalian senjata dengan Rusia karena dianggap sebagai ancaman keamanan di kawasan. (Reuters/Maxim Shemetov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Negara-negara di Eropa khawatir Rusia akan memicu perlombaan senjata di kawasan itu menyusul campur tangan Kremlin dalam konflik Ukraina. dengan alasan itu, 15 negara Eropa yang digawangi Jerman berupaya menggodok kesepakatan pengendalian senjata baru dengan Rusia.

"Keamanan Eropa dalam bahaya. Hubungan dengan Rusia akan sulit, kami perlu berdialog lebih banyak," kata Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier dalam wawancara dengan koran Die Welt yang dikutip Reuters, Jumat (25/11).

Steinmeier dari Partai Sosial Demokrat yang dinominasikan sebagai presiden Jerman tahun depan, pada Agustus lalu sempat menyuarakan kesepakatan pengendalian senjata baru dengan Rusia untuk mencegah peningkatan ketegangan di Eropa.


Pengendalian senjata adalah kesepakatan antara beberapa negara untuk pembatasan pengembangan, produksi, penimbunan atau penggunaan senjata jenis tertentu. Rusia sejak tahun 1970-an telah terlibat dalam kesepakatan ini, di antaranya untuk pengendalian senjata kimia dan penimbunan ranjau darat.

Ke-15 negara yang mendukung inisiatif Jerman mendesak Rusia membuat kesepakatan baru adalah Perancis, Italia, Austria, Swiss, Republik Ceko, Spanyol, Finlandia, Belanda, Norwegia, Rumania, Swedia, Slovakia, Bulgaria dan Portugal.

Kelompok ini akan membuat pernyataan bersama dan bertemu kembali di sela-sela pertemuan tingkat menteri Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa, OSCE, pada 8-9 Desember mendatang di Hamburg.

Menurut Steinmeier, Rusia semakin membahayakan setelah mencaplok Crimea dari Ukraina pada 2014 dan mendukung kelompok separatis di Ukraina timur. Steinmeier mengatakan, tindakan Rusia itu menimbulkan rasa tidak percaya dan akan memicu perlombaan senjata.

"Kita punya tanggung jawab untuk berupaya semaksimal mungkin dalam upaya meningkatkan keamanan dan perdamaian," ujar Steinmeier.

Langkah Steinmeier ini dipandang pesimistis oleh Amerika Serikat yang menganggap Rusia telah berulang kali melanggar kesepakatan dan traktat. AS dan NATO Juni lalu juga mengkritik Steinmeier yang memperingatkan soal manuver militer Barat di Eropa timur yang disebutnya memperburuk ketegangan dengan Rusia. (den)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK