Menang Electoral College, Trump Resmi Jadi Presiden Baru AS

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 20/12/2016 10:55 WIB
Menang Electoral College, Trump Resmi Jadi Presiden Baru AS Donald Trump resmi memenangkan pemilu presiden AS setelah berhasil meraup lebih dari 270 suara dalam pemilihan kolase atau Electoral College. (Reuters/Mike Stone)
Jakarta, CNN Indonesia -- Donald Trump resmi dinyatakan sebagai pemenang pemilihan umum presiden Amerika Serikat setelah berhasil meraup lebih dari 270 suara dalam pemilihan kolase atau Electoral College pada Selasa (20/12).

Melansir Reuters, berdasarkan laporan Associated Press, dari penghitungan sejauh ini menunjukkan Trump telah meraih 304 suara pemilih kolase. Sementara rivalnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, hanya berhasil meraih 227 suara.

Electoral College merupakan pemilihan umum yang akan meresmikan presiden dan wakil presiden AS. Pemilihan ini merupakan tahap lanjutan dari pemilihan umum presiden yang diikuti oleh warga AS pada 8 November lalu. Salah seorang kandidat harus mengamankan setidaknya 270 suara untuk memenangi pemilu ini.


Karena Trump sejauh ini sudah berhasil mengamankan lebih dari 270 suara, maka konglomerat asal New York itu dipastikan akan melenggang ke Gedung Putih dan mulai menjabat sebagai orang nomor satu di Amerika terhitung 20 Januari mendatang.

"Saya akan bekerja keras untuk mempersatukan negara ini dan menjadi presiden bagi seluruh warga Amerika," ujar Trump menanggapi hasil Electoral College seperti dikutip Reuters, Senin (20/12).

Tak lama setelah hasil penghitungan pemilihan kolase muncul, Mike Pence selaku wakil Trump langsung mengucapkan selamat kepada taipan real estate itu atas kemenangan resminya dalam pemilu AS 2016 ini.

Melalui akun Twitter-nya, Pence juga menuturkan perasaan senang lantaran bisa menemani Trump di Gedung Putih untuk melayani negara itu selama 4 tahun ke depan.

"Selamat untuk Trump. Saya merasa terhormat karena resmi terpilih sebagai Wakil Presiden AS dalam Electoral College," kata Pence.

Electoral College ini diikuti oleh 538 pemilih yang mewakili 50 negara bagian AS. Para pemilih (electors) dipilih oleh kantor perwakilan kedua partai besar, Demokrat dan Republik, sesuai dengan persentase pemilih di masing-masing negara bagian. 

Dalam fase pemilihan ini masing-masing pemilih mewakili suara dari negara bagiannya. Jika pada pemilu populer sebelumnya, negara bagian tersebut dimenangkan oleh Trump, biasanya dalam pemilihan kolase para pemilih tersebut juga akan memilih Trump.

Namun, dalam tradisi Electoral College, masih ada "pemilih yang tidak setia". Pemilih yang tidak setia diartikan bahwa dirinya tidak memilih kandidat presiden sesuai dengan hasil suara terbanyak pemilu di negara bagiannya.

Mengutip CNN, sekitar tujuh pemilih tidak memilih sesuai dengan hasil pemilu di negara bagiannya dalam Electoral College kali ini. Dua pemilih tidak memberikan suaranya untuk Trump, sementara empat pemilih "membangkang" dari hasil pemilu populer di negaranya dengan tidak memilih Clinton.

Sementara itu, Hawaii memiliki empat pemilih kolase yang seharusnya memilih Clinton dalam tahap ini. Namun, satu dari empat pemilih melanggar hasil pemilu negara bagian itu dengan memberikan suaranya bagi Senator AS Bernie Sanders, yang sempat mencalonkan diri menjadi capres dari Partai Demokrat.

Electoral College sempat diwarnai aksi protes warga. Para pengunjuk rasa sempat menganggu Electoral College di negara bagian Wisconsin.

Di Austin, Texas, sekitar 100 orang meneriakan "buang Trump" sambil memegang poster bertuliskan "Seluruh mata warga Texas tertuju pada Anda" berusaha mempengaruhi para pemilih kolase di wilayah itu.

Gubernur Washington yang merupakan politikus Demokrat, Jay Inslee, juga menyebutkan, sistem Electoral College ini harus dihapuskan.

Menurut Inslee pemilihan kolase ini menimbulkan kecemasan besar dari warga Amerika bahkan dunia mengenai hasil pemilu AS. (has)