Kesaksian Fotografer yang Abadikan Pembunuhan Dubes Rusia

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Rabu, 21/12/2016 17:15 WIB
Kesaksian Fotografer yang Abadikan Pembunuhan Dubes Rusia Burhan Ozbilici mengumpulkan keberaniannya untuk mendokumentasikan aksi pelaku yang meneriakkan aspirasinya usai menembak Dubes Rusia untuk Turki. (Hasim Kilic/Hurriyet via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saya dengar suara tembakan, sangat keras -- dor dor dor."

Kalimat itu terlontar dari mulut juru foto Associated Press Burhan Ozbilici ketika ia diminta menceritakan kembali pengalamannya menyaksikan langsung penembakan yang menewaskan Duta Besar Rusia untuk Turki Andrei Karlov di sebuah galeri seni di Ankara pada Senin (19/12) malam.

Ozbilici mengungkapkan ia sebenarnya tak berencana menghadiri pameran foto bertema "Bagaimana Turki Melihat Rusia" itu, namun memutuskan untuk mampir sebentar ke galeri yang searah dengan jalan menuju rumahnya itu. Ia berpikir, satu-dua foto Karlov membuka pameran itu akan berguna untuk kepentingan penulisan berita di tengah normalisasi hubungan Moskow dan Ankara.


Siapa sangka, pameran foto itu berubah menjadi ajang penembakan yang menegangkan. Serentetan tembakan dilepaskan oleh anggota polisi anti huru-hara Mevlut Mert Altintas yang berada di belakang sang sang dubes, ketika ia mulai berpidato untuk membuka pameran foto.

Setelah menumbangkan Karlov, Altintas berteriak, "Allahu Akbar!" dilanjutkan dengan, "Jangan lupakan Aleppo! Jangan lupakan Suriah! Semua yang ikut serta dalam tirani ini akan bertanggung jawab!"

Ozbilici kemudian bergegas ke ruang belakang, berlindung di balik dinding. Dia melihat sang pelaku mengelilingi jasad Karlov yang tersungkur di lantai. Menurutnya, Altintas terlihat gelisah, mencabut sejumlah foto yang dipamerkan dari dinding.

"Ia sangat tenang, kalem, dan natural. Bukan tipe diplomat yang biasanya kita lihat," tuturnya kepada CNN.

"Kerumunan orang yang berdiri di depan, bubar. Semua panik, hanya bisa merunduk ke lantai. Mereka mencoba bersembunyi, berlindung. Saya kaget... takut...tapi tak panik," ujar Ozbilici.

"Dalam kondisi sulit, saya tetap tenang. Saya punya tanggung jawab untuk meliput acara itu. Dubes terbaring di lantai, tak bergerak. Dan pelakunya kemudian melontarkan sejumlah kalimat bermuatan politis," kata Ozbilici.

"Beberapa orang berteriak, menangis, jadi saya tidak bisa mendengar situasi dengan baik," ujarnya.

"Saya, tentu saja, takut dan sadar akan bahaya jika sang penembak melihat saya," katanya kepada APNews.com.

Ozbilici kemudian mengumpulkan keberaniannya untuk mendokumentasikan sang pelaku yang tengah meneriakkan aspirasinya di depan pengunjung yang ketakutan.

"Yang ada di pikiran saya hanya ini: saya di sini. Bahkan jika saya tertembak, terluka, atau tewas, saya tetap seorang wartawan. Saya harus melakukan pekerjaan saya. Saya bisa saja lari tanpa mengambil foto apapun... Tapi saya tidak akan punya jawaban ketika orang-orang bertanya, 'Mengapa kamu tak ambil fotonya?'" tutur Ozbilici.

(Depo Photos/Sozcu Newspaper via Reuters)
Ia menambahkan, "Terlintas dalam pikiran saya soal rekan-rekan yang tewas ketika mengambil foto di zona perang selama beberapa tahun terakhir."

Ozbilici lalu memutuskan untuk tetap bekerja, mendokumentasikan aksi pembunuhan yang mengejutkan itu. Hanya beberapa jam setelah insiden ini, foto-fotonya terpampang di berbagai media besar di penjuru dunia, dan viral di media sosial.

"Saya melihat pria itu [pelaku] sangat gelisah, namun anehnya, dia mampu mengendalikan dirinya. Ia berteriak ke semua orang untuk mundur. Petugas keamanan memerintahkan kami untuk mengosongkan ruangan, sehingga kami pergi," ujarnya.

Ketika Ozbilici mengedit foto yang berhasil ia ambil, ia menyadari sesuatu yang ganjil, yang membuktikan bahwa serangan itu merupakan penembakan yang terencana.

"Ketika saya mengedit foto, dua foto pertama menunjukkan bahwa sang penembak berdiri di belakang duta besar... layaknya orang dari rombongan kedubes atau pihak penyelenggara pameran. Ia sangat tenang," ujar Ozbilici.

"Saya sangat sedih ketika melihat kembali seorang pria tak bersalah tersungkur di lantai, tak lagi bernyawa," tuturnya. (ama/aal)