Rusia Marah Dubesnya Disebut Mata-mata oleh AS

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Jumat, 03/03/2017 15:47 WIB
Pemerintah Rusia tak terima duta besarnya untuk Amerika Serikat disebut sebagai mata-mata, di tengah kontroversi hubungan Presiden Trump dengan Moskow. Jubir pemerintah Rusia, Dimitry Peskov, menegaskan negaranya tak akan ikut campur urusan bangsa lain. (AFP Photo/Maxim Shemetov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri Rusia berang dan menampik laporan yang menyebut perwakilannya di Amerika Serikat sebagai mata-mata, di tengah kontroversi pertemuannya dengan Jaksa Agung Jeff Sessions.

Kemarin, CNN melaporkan bahwa Duta Besar Sergey Kislyak dianggap intelijen Amerika Serikat sebagai salah satu agen dan perekrut mata-mata Rusia di Washington, mengutip sejumlah pejabat pemerintahan AS.

Namun, ketika ditanya tentang laporan tersebut, juru bicara Kemlu, Maria Zakharova, menampiknya dengan menyebut Kislyak sebagai "diplomat kelas dunia yang dikenal baik."


"Dia adalah wakil menteri luar negeri Rusia, yang telah berkomunikasi dengan rekan-rekan di Amerika di berbagai bidang selama puluhan tahun, dan CNN menuduhnya sebagai mata-mata Rusia? Ya Tuhan!" ujarnya ketika dikonfirmasi CNN, Jumat (3/3).

Sessions dituntut politisi Demokrat agar segera mengundurkan diri, setelah dilaporkan dua kali bertemu dengan Kislyak tahun lalu. Yang jadi masalah, pertemuan ini tidak dia akui dalam sidang konfirmasi penunjukannya sebagai jaksa agung.

Dia mengaku tidak berupaya untuk menyesatkan Kongres dengan jawaban yang ia sampaikan dalam sidang.

Menurut Zharakova, laporan media mengenai pertemuan kedua pihak "sangat memalukan." Dia juga menyebut laporan-laporan itu sebagai "sebuah upaya total untuk menyesatkan informasi" dan sejenis tindakan "vandalisme."

Selain itu, dia juga membela peran diplomat Rusia secara umum. "Semua orang tahu bagaimana diplomat bekerja dan pekerjaan mereka termasuk berhubungan dengan orang lain."

Secara terpisah, ditanyai soal ini, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan "tidak ada yang mendengar satu pun pernyataan soal duta besar kami. Lagi, ini adalah asumsi media yang terus berupaya untuk membesarkan masalah."

Peskov juga berkeras bahwa Rusia tidak pernah mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain dan tidak pernah berencana untuk melakukan itu.

Dia mengatakan, "keadaan terlalu emosional" belakangan ini memengaruhi prospek pertemuan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Atmosfer emosional ini mengakibatkan resistensi akan ide mengembangkan hubungan dengan Rusia. Itu benar. Dampak negatifnya sangat jelas di sini," kata Peskov melalui telepon.

(aal)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK