Sebagaimana dilansir Al Arabiya, tempat ibadah yang juga sering disebut Gereja Mary Girgis ini sudah menjadi target pengeboman pada 29 Maret lalu. Upaya ini gagal karena aparat berhasil menjinakkan bom tersebut.
Beberapa hari kemudian, Kota Tanta kembali dikejutkan dengan temuan bom di salah satu kampus di Tanta University. Namun, aparat juga berhasil menjinakkan bom ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian acara ini akan dilanjutkan dengan Jumat Agung. Puncak acara jatuh pada hari Minggu, ketika umat Kristen merayakan kebangkitan Yesus atau biasa disebut Paskah.
Seorang jurnalis Koptik, Sameh Mahrous, mengatakan kepada Al Arabiya bahwa serangan ini merupakan bukti kegagalan aparat keamanan.
Terlebih lagi, serangan bom pada Minggu Palma ini tidak hanya terjadi di Gereja St. George di Tanta, tapi juga Gereja St. Mark's di Alexandria. Kedua insiden yang diklaim oleh ISIS ini menelan 44 korban nyawa.
"Mesir sangat serius memerangi ekstremis dan serangan semacam ini selalu meningkat setiap negara meningkatkan pengawasan," kata Mahrous.
Kini, Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, pun mengajukan penerapan status darurat negara selama tiga bulan yang harus melalui persetujuan parlemen.
Hukum gawat darurat ini memberikan kuasa lebih kepada polisi untuk melakukan penangkapan, pengawasan, penggerebekan, dan pembatasan ruang gerak.