Analis: Kunjungan Pence Kompensasi Hengkangnya AS dari TPP

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 20/04/2017 16:06 WIB
Pengamat dari Eurasia Group menganggap kunjungan Wapres AS Mike Pence ke Jakarta terfokus pada masalah ekonomi setelah Amerika Hengkang dari TPP. Wapres AS Mike Pence saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Kamis (20/4) siang. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang Analis menyebut kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence ke Indonesia berkaitan erat dengan hengkangnya negeri raksasa itu dari Kemitraan Trans-Pacific (TPP).

Berselang tiga bulan sejak Presiden Donald Trump resmi menjabat di Gedung Putih, sejumlah pejabat kabinet mulai melakukan lawatan kenegaraan sebagai bentuk komitmen kehadiran AS di sejumlah kawasan.

Dalam tur perdana Pence ke Asia yang berlangsung selama 10 hari ini, Indonesia menjadi satu-satunya negara ASEAN sekaligus negara mayoritas Muslim pertama yang ia kunjungi. Tiga negara lain yang turut disambangi Pence adalah Korea Selatan, Jepang, dan Australia--sekutu terdekat Washington.
Terlepas dari retorika dan sentimen keras Trump terhadap Islam, isu keagamaan itu disebut bukan menjadi agenda utama kunjungan Pence ke Jakarta. Meredith Sumpter, seorang pengamat dari Eurasia Group, mengatakan kunjungan Pence ke Indonesia justru berfokus membahas perdagangan kedua negara.


"Sejalan dengan mandat politik Presiden Trump, kunjungan Pence ini nampaknya akan terfokus pada perluasan hubungan komersial AS dan Indonesia," tutur Sumpter kepada CNBC, Rabu (19/4).

"Wapres Pence sadar betul bahwa AS perlu berbuat lebih banyak lagi seiring dengan hengkangnya Washington dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) agar bisa mempertahankan kekuatan ekonomi AS," katanya menambahkan.

Menurut Sumpter, retorika perdagangan bilateral AS merupakan agenda utama dalam kunjungan pence ke sejumlah negara di Asia ini. Lawatan ini dianggap sebagai "pesan" Trump bahwa Negeri Paman Sam masih berkomitmen mendorong perdagangannya di Asia meski telah menjauh dari TPP.
Masalah perdagangan disebut sebagai primadona dalam pembahasan Pence dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, menyusul perintah eksekutif Trump baru-baru ini yang menuding kebijakan ekonomi 16 negara, termasuk Indonesia, telah menyebabkan neraca perdagangan Negeri Paman Sam defisit.

Di Jepang, sehari sebelum bertolak ke Jakarta, Pence bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Taro Aso, membahas kemungkinan terjalinnya pakta perdagangan dua arah antara Washington-Tokyo.

Baik Pence dan Aso juga sama-sama sepakat untuk menghapuskan praktik perdagangan yang tidak adil. Meski begitu, lawatan Pence ke Negeri Matahari terbit itu tetap tak menghasilkan kesepakatan perdagangan bilateral yang konkret.

"Washington sangat ingin melanjutkan negosiasi perdagangan bilateral, tak hanya dengan Jepang, tapi juga dengan mitra dagang lainnya di kawasan," tutur Sumpter.
"Seperti yang terlihat dari kunjungan Pence ke Korsel dan Jepang, lawatannya ke Indonesia dan Australia nanti sepertinya juga akan terfokus menekankan komitmen AS menjaga hubungan ekonominya dengan negara di Asia meski telah meninggalkan rezim perdagangan multilateral [TPP]," ucapnya.

"Kunjungan ini juga sebagai kesempatan AS memperluas investasi perusahaan mereka di kawasan."

Walaupun begitu, Sumpter tak menampik jika pertemuan bilateral Pence dengan JK ini juga akan membahas sejumlah isu di luar masalah ekonomi, seperti isu keamanan dan isu terorisme.
"Di samping meningkatnya populisme Muslim di Indonesia, saya berpikir kunjungan Pence juga akan terfokus pada penguatan hubungan AS dengan ASEAN dan pembahasa isu-isu regional seperti terorisme," kata Sumpter.

Namun, yang terpenting menurut Sumpter, kunjungan Pence ini menandakan penegasan AS terkait kemitraan strategis dengan Indonesia.

"Indonesia lagi-lagi pasar yang sangat penting. Pasar Indonesia mencapai 40 persen dari negara ASEAN," tambahnya.