Mike Pence, dari Gereja Konservatif ke Gedung Putih

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 20/04/2017 14:50 WIB
Dikenal sebagai seorang Kristen konservatif, Mike Pence berkunjung ke Indonesia dan direncanakan mengadakan dialog antar-agama di Masjid Istiqlal. Dikenal sebagai seorang Kristen kopnservatif, Wapres AS, Mike Pence, berkunjung ke Indonesia dan direncanakan mengadakan dialog antar-agama di Masjid Istiqlal. (AFP Photo/Emmanuel Dunand)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saya adalah seorang Kristen, seorang konservatif, dan seorang Republik," ujar Mike Pence menjabarkan tiga hal penting yang membentuk kepribadian dan caranya memimpin.

Pernyataan itu dilontarkan dalam pidatonya ketika terpilih sebagai calon Wakil Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, untuk mendampingi sang kandidat presiden, Donald Trump.

Ucapan ini langsung menjadi sorotan luas, apalagi setelah ia benar-benar dinobatkan sebagai Wapres AS pada Januari lalu. Banyak pihak khawatir, keyakinannya berdampak pada cara Pence mengambil keputusan.


Pasalnya, Pence sudah pernah dirundung kontroversi karena kebijakannya terkait agama. Salah satu kasus paling besar adalah ketika ia menjabat sebagai Gubernur Indiana.

Kala itu, 26 Maret 2015, Pence meneken Aturan Restorasi Kebebasan Keagamaan. Salah satu isi dari aturan tersebut adalah seseorang atau perusahaan dapat menggunakan dalih kepercayaan dalam pembelaannya di hadapan pengadilan.

Keputusan ini dikecam oleh banyak pihak karena dianggap dapat mengancam kesetaraan kaum lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di mata hukum.

Meskipun Pence akhirnya mengamandemen aturan tersebut, publik sudah terlanjur melabeli dia sebagai seorang pemimpin yang bias dalam mengambil keputusan.
Mike Pence, dari Gereja Konservatif ke Gedung PutihKeputusan ini dikecam oleh banyak pihak karena dianggap dapat mengancam kesetaraan kaum lesbi, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di mata hukum. (Reuters/Nate Chute)
The New York Times memberitakan, ajaran Kristen konservatif memang sudah mendarah daging dalam keluarga Pence. Namun, keluarga Pence sebenarnya termasuk liberal dan mendukung Partai Demokrat.

Lahir di Indiana pada 7 Juni 1959, Pence tumbuh di tengah keluarga Katolik yang sangat taat beribadah. Keempat kakaknya merupakan putra altar di gereja mereka di St. Columbia. Mereka bahkan dididik di sekolah paroki St. Columbia.

"Mereka di gereja enam hari dalam sepekan, terkadang tujuh hari. Bahkan setelah mereka semua kuliah, gereja itu masih sering menelepon rumah Pence jika kekurangan orang untuk menjadi putra altar," demikian bunyi laporan The New York Times.

Namun, pemikiran keagamaan Pence mulai bergeser ketika bertemu dengan istrinya, Karen, semasa menuntut ilmu di Hanover College.

"Saya mulai tertarik dengan paham konservatif Ronald Reagan dan saya memutuskan untuk menjadi anggota Partai Republik dan pindah ke Indianapolis dan belajar hukum," tutur Pence kepada Indianapolis Star.

Setelah lulus dari sekolah hukum di Universitas Indiana pada 1986, Pence menjadi pengacara privat. Ia kemudian mulai terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri menjadi anggota Kongres pada 1988 dan 1990. Namun, ia selalu gagal.

Setahun kemudian, ia menjadi presiden lembaga think tank pasar bebas, Yayasan Pengkaji Kebijakan Indiana. Pada 1992, ia mulai sibuk menjadi pembawa acara The Mike Pence Show di radio WRCR-FM.

Suara Pence masih sering terdengar di sejumlah radio di Indiana hingga 1998. Namun, impiannya untuk terjun ke dunia politik tak pernah pupus hingga akhirnya ia kembali mengikuti pemilihan anggota Dewan Perwakilan pada 2000.

Kali ini, Pence menang dan namanya terus menyelusup ke pusaran orang penting dalam Partai Republik. Meskipun demikian, Pence juga memiliki banyak penentang karena sejumlah pernyataan kontroversialnya.
Mike Pence, dari Gereja Konservatif ke Gedung PutihPence memiliki banyak penentang, termasuk dari dalam partainya sendiri, karena pernyataan kontroversialnya. (Reuters/Jonathan Ernst)
Saat berlaga memperebutkan kursi Gubernur Indiana pada 2012 pun, Pence hanya menang tipis dengan suara sekitar 51 persen. Pihak yang menolak menganggap Pence terlalu konservatif.

Sejumlah keputusannya saat menjadi gubernur pun kerap mendapat kecaman, salah satunya kebijakan Pence mengenai imigran pada 2015 lalu.

Kala itu, dunia tengah kalut karena rangkaian serangan teror di Perancis yang memicu meningkatnya sentimen anti-imigran.

Ketika sejumlah pihak menentang sentimen tersebut, Pence justru mengeluarkan perintah eksekutif untuk menghentikan penempatan imigran Suriah di Indiana. Ia juga berencana memotong anggaran untuk para pengungsi yang sudah ada di Indiana.

Hakim federal menolak keputusan tersebut dan mengatakan bahwa perintah itu "benar-benar merupakan diskriminasi berdasarkan asal negara" dan para pengungsi itu "sama sekali tidak berbahaya bagi penduduk Indiana."

Ketika ia terpilih menjadi Wakil Presiden, Pence pun dianggap tidak dapat meredam karakter Trump yang selama masa kampanye dinilai sangat rasis dan anti-Muslim.

Namun dalam kunjungannya ke Indonesia hari ini, Kamis (20/4), Pence dijadwalkan berkunjung ke Masjid Istiqlal untuk berdiskusi dengan sejumlah tokoh lintas-agama.

Direktur urusan Amerika Utara Kementerian Luar Negeri RI, Adam Mulawarman Tugio, menyebut kunjungan Pence ke Istiqlal “merefleksikan keinginan AS membuka diri pada Islam dan terlibat dalam dialog lintas agama.”