"Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan Korut ini. [Uji coba rudal] ini sangat dekat dengan wilayah Rusia. China tak bisa hanya mengandalkan dialog, ancaman ini nyata," tutur duta besar AS untuk PBB Nikki Haley, Senin (15/5).
Menurut dewan kepresidenan DK PBB yang kini dipegang duta besar Uruguay, pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa (16/5) siang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama berminggu-minggu, pemerintahan Presiden Donald Trump terus menuntut pemberatan sanksi terhadap rezim Kim Jong-un lantaran ambisi program rudal dan nuklirnya kian mengancam keseimbangan keamanan di kawasan.
Trump telah mengeluarkan pernyataan singkat, menyerukan sanksi lebih keras terhadap Korut dengan mengatakan, "biarlah provokasi terbaru Korut menjadi seruan bagi seluruh negara untuk menerapkan sanksi yang lebih tegas terhadap Korut."
"Kim Jong-un dalam keadaan paranoia. Jadi yang akan kita lakukan adalah terus memantapkan pendirian. Dia [Jong-un] benar-benar merasakannya, kita akan terus menekannya entah itu dengan sanksi, pernyataan pers, apapun yang harus kita lakukan," ucap Nikki.
Sementara itu, juru bicara NATO, Oana Lungescu, menyebut provokasi terbaru Pyongyang ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap serangkaian resolusi DK PBB selama ini.
"Ini merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional," katanya, seperti dikutip AFP.