Negara terisolasi itu berkoar, Senin (15/5), bahwa peluncuran yang dipimpin langsung oleh Kim Jong-un itu bertujuan untuk memverifikasi kemampuan untuk membawa "hulu ledak nuklir berat berskala besar."
Kim menuding Amerika Serikat mengintimidasi negara-negara yang tidak mempunyai senjata nuklir dan memperingatkan Washington bahwa wilayahnya berada dalam jangkauan serangan Korea Utara. Demikian dilaporkan kantor berita pemerintah KCNA sebagaimana dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudal tersebut jatuh di laut dekat Rusia, Minggu. Washington menyebut peluncuran itu sebagai pesan untuk Korea Selatan, selang beberapa hari setelah presiden barunya berjanji akan mengajak Pyongyang berdialog.
Pyongyang diyakini tengah mengembangkan rudal nuklir yang bisa mencapai Amerika Serikat (8.000 kilometer). Hal tersebut menghadapkan Presiden Donald Trump dengan salah satu tekanan terbesar di bidang keamanan.
Bulan lalu, Trump mengatakan konflik besar dengan Korea Utara bisa saja terjadi, tapi dia lebih memilih cara diplomatik. Dia juga berjanji akan mencegah Korut menghantam AS dengan rudal nuklir, kemampuan yang menurut para pakar bisa dicapai pada 2020 nanti.
Rudal balistik baru yang bernama Hwasong-12 itu ditembakkan dengan sudut tertinggi untuk menghindari dampak langsung terhadap negara-negara tetangganya dan terbang sejauh 787 kilometer setelah mencapai ketinggian 2.111 kilometer, kata KCNA.
Detail itu konsisten dengan pernyataan Korea Selatan dan Jepang dan mengindikasikan rudal tersebut terbang lebih tinggi dan lebih jauh ketimbang rudal jarak menengah yang diluncurkan dari wilayah sama pada Februari lalu.