Seorang pejabat Korsel mengatakan, penundaan ini dapat memakan waktu lama, mengingat proses kajian dampak lingkungan tersebut bisa mencapai satu tahun.
Sejak pengerahan komponen THAAD dimulai pada Maret lalu, AS sudah mengirim enam alat pelontar, yaitu dua pada Maret dan empat lainnya pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pihak Kementerian Pertahanan AS sendiri emngatakan akan tetap menjalankan kerja sama ini dengan transparan.
"Kami akan terus berkoodrinasi dengan pemerintahan Moon [Jae-in, Presiden Korsel]," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Anna Richey-Allen.
Moon sendiri merupakan sosok yang dikenal sangat skeptis terhadap pengerahan THAAD ini. Sejak masa kampanye, ia selalu menyerukan kajian menyeluruh sebelum pemerintah memutuskan pengerahan sistem anti-rudal ini.
Melihat kemelut ini, Moon pun berencana "bernegosiasi secara serius" dengan Washington dan Beijing soal penempatan sistem pertahanan tersebut.