Filipina Minta Facebook Hapus Video Penyerangan Gereja Marawi
CNN Indonesia
Jumat, 09 Jun 2017 05:42 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Filipina meminta sejumlah perusahaan jejaring sosial, termasuk Facebook, untuk menghapus video yang merekam momen penghancuran dan pembakaran gereja di Marawi karena dianggap dapat memicu konflik keagamaan lebih luas.
"Kami sudah meminta konten itu ditarik karena dapat menyebabkan kebencian dan dimanfaatkan militan untuk menyulut Kristen agar melawan elemen bersenjata atau memancing kebencian antara Kristen dan Muslim," ujar juru bicara Pasukan Bersenjata Filipina (AFP), Restituto Padilla.
Tak hanya itu, Padilla juga meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan kembali video yang juga memperlihatkan militan merobek foto Paus Fransiskus, menjatuhkan salib, serta menginjak patung Yesus di Katedral Santa Maria tersebut.
"Tolong jangan menyebarkan ini. Mari gagalkan upaya kelompok-kelompok teror ini membakar perasaan dari saudara beda agama," tutur Padilla sebagaimana dikutip Inquirer.
Situasi di Marawi memang sedang panas setelah pecahnya bentrokan antara militer Filipina dan kelompok militan Maute pada akhir Mei lalu.
Bentrokan yang sudah menewaskan ratusan orang ini bermula ketika militer Filipina melancarkan operasi penangkapan pemimpin kelompok militan Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.
Tak lama setelah bentrokan pecah, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, langsung mendeklarasikan darurat militer di Mindanao.
"Kami sudah meminta konten itu ditarik karena dapat menyebabkan kebencian dan dimanfaatkan militan untuk menyulut Kristen agar melawan elemen bersenjata atau memancing kebencian antara Kristen dan Muslim," ujar juru bicara Pasukan Bersenjata Filipina (AFP), Restituto Padilla.
Tak hanya itu, Padilla juga meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan kembali video yang juga memperlihatkan militan merobek foto Paus Fransiskus, menjatuhkan salib, serta menginjak patung Yesus di Katedral Santa Maria tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bentrokan yang sudah menewaskan ratusan orang ini bermula ketika militer Filipina melancarkan operasi penangkapan pemimpin kelompok militan Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.
Tak lama setelah bentrokan pecah, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, langsung mendeklarasikan darurat militer di Mindanao.