Mahasiswa AS yang Dievakuasi dari Korea Utara Meninggal

Resty Armenia , CNN Indonesia | Selasa, 20/06/2017 04:12 WIB
Mahasiswa AS yang Dievakuasi dari Korea Utara Meninggal Mahasiwa Amerika Serikat yang ditahan selama setahun di Korea Utara, Otto Warmbier, meninggal. (Foto: REUTERS/Kyodo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mahasiwa Amerika Serikat yang ditahan selama setahun di Korea Utara, Otto Warmbier, meninggal setelah sebelumnya dipulangkan dalam kondisi koma. Hal itu dinyatakan oleh pihak keluarganya.

Dokter yang memeriksa Warmbier sebelumnya menyebut pasiennya itu menderita kerusakan otak parah dan tidak responsif terhadap pengobatan.

Warmbier dievakuasi secara medis dari Korea Utara ke negaranya pada Rabu (13/6). Ia meninggal pada pukul 14.20 waktu setempat, dikelilingi oleh keluarganya di Rumah Sakit University of Cincinnati, Ohio.

“Menjadi kewajiban kami untuk melaporkan bahwa putra kami, Otto Warmbier, telah menuntaskan perjalanannya kembali ke rumah,” ujar pihak keluarga dalam pernyataan resmi mereka.

“Penganiayaan menyiksa yang diterima putra kami di tangan para warga Korea Utara meyakinkan bahwa tidak ada hasil yang memungkinkan,” imbuh mereka.
Pemerintah Korut membebaskan Warmbier dari hukuman penjara dan kerja paksa selama 15 tahun, setelah pebasket Dennis Rodman mengunjungi negara paling terisolasi di dunia tersebut.

Warmbier dipulangkan ke keluarganya di Ohio, namun tidak dalam kondisi sehat. Dia dinyatakan koma akibat kerusakan otak parah yang dideritanya.

Dokter yang memeriksa Warmbier, dikutip Guardian, menyebut mahasiswa berusia 22 tahun itu dalam kondisi stabil, namun “tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, dia tidak mengerti bahasa ataupun bisa merespon perintah verbal,” sebut Dokter Daniel Kanter, Direktur Unit Perawatan Saraf Intensif di Rumah Sakit University of Cincinnati.

“Dia belum berbicara sama sekali. Dia juga belum bisa merespons keluarganya,” papar Dokter Kanter, kendati menambahkan Warmbier bisa bernapas sendiri tanpa bantuan mesin.
Korea Utara menyatakan mereka membebaskan Warmbier atas alasan kemanusiaan. Media Korut KCNA menyebut Warmbier dihukum kerja paksa, namun tidak menginformasikan mengenai kondisi medis mahasiswa University of Virginia tersebut.

Mantan Gubernur New Mexico yang juga duta besar AS bagi PBB, Bill Richardson, menyerukan penyelidikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Warmbier.

Dia juga mengatakan bahwa Kementerian Luar Negeri harus memberi pernyataan tegas pada pemerintah Korut, terlebih jika terdapat “indikasi adanya informasi yang ditutup-tutupi dan jika Warmbier tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya.”

Warmbier dihukum 15 tahun penjara dan kerja paksa setelah dia mengaku mencoba mencuri spanduk propaganda Korut dari sebuah hotel ketika berkunjung ke negara tersebut.
Hal itu menambah ketegangan antara Washington dan Pyongyang. Terlebih, masih ada tiga warga AS yang ditahan di Korut.

AS menuduh rezim Kim Jong-un mempergunakan tahanan sebagai pion politik, sementara Korut menuding AS dan Korsel mengirimkan mata-mata guna menggulingkan pemerintahan mereka.

Menlu AS Rex Tillerson mengatakan pada Selasa, bahwa kantornya terus melakukan dialog dengan Pyongyang untuk membebaskan tiga warga AS lainnya.