Baku hantam tersebut melukai tujuh politikus oposisi. Negara OPEC yang berada di Amerika Selatan itu selama tiga bulan belakangan telah digoyang oleh protes terhadap pemerintahan sosialis Presiden Nicolas Maduro.
Setidaknya 90 orang tewas dalam serangkaian protes tersebut. Bentrokan dan barikade pun kerap memblokir kota-kota di seluruh penjuru Venezuela.
Lihat juga:Jumlah Pendemo Tewas di Venezuela Bertambah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah saksi mengatakan sekelompok orang telah berkumpul saat fajar di luar bangunan yang berada di Caracas itu, meneriakkan dukungan terhadap Maduro. Pagi menjelang siang, puluhan orang berlari melewati gerbang sambil menghunus pipa, tongkat dan batu dan melakukan serangan.
Sejumlah anggota parlemen yang terluka berjatuhan, berdarah-darah dan tampak linglung di sekitar koridor bangunan tersebut. Sementara itu, sejumlah wartawan justru dirampok.
Lihat juga:Perisai Sang Penantang Maduro |
Beberapa orang di luar kompleks parlemen membawa pistol, mengancam akan memotong pasikan air dan listrik, dan memutar rekaman suara mantan presiden sosialis Hugo Chavez berkata "Bergetarlah, oligarki!" Tak hanya itu, kembang api dilemparkan ke dalam kompleks.
Anggota parlemen yang terluka paling parah, Americo De Grazia, terkena pukulan di bagian kepala, jatuh pingsan dan akhirnya ditandu menuju ambulan. Keluarganya belakangan mengatakan De Grazia sudah melewati masa-masa kritis dan lukanya sedang dijahit.
Pusat kota Caracas adalah kawasan pemerintahan tradisional dan sejumlah bentrokan terjadi di sana sejak oposisi mengalahkan partai penguasa dalam pemilihan umum parlementer 2015 lalu.
Dalam protes yang berlangsung hampir setiap hari sejak April, demonstran muda kerap menyerang pasukan keamanan dengan batu, mortir rakitan dan bom molotov, bahkan membakar bangunan. Mereka juga membunuh seorang pria dengan cara dibakar.
"Saya ingin kedamaian untuk Venezuela," kata Maduro. "Saya tak terima kekerasan dari siapapun."