Komunitas Internasional Minta China Bebaskan Istri Liu Xiaobo

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Jumat, 14/07/2017 13:42 WIB
Komunitas Internasional Minta China Bebaskan Istri Liu Xiaobo Demonstran memegang foto Liu Xia, istri mendiang Liu Xiaobo. Dunia mendesak China membebaskan Liu Xia setelah suaminya meninggal. (AFP PHOTO / Isaac Lawrence)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komunitas internasional meminta pemerintah China membebaskan Liu Xia, istri mendiang pemenang Nobel Perdamaian Liu Xiaobo, yang meninggal Kamis (13/7). Sebelumnya, dunia juga mendesak China membebaskan Liu dan mengabulkan permintaannya berobat keluar negeri, namun permintaan itu ditolak Beijing.

Desakan pembebasan istri Liu datang dari Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Sejak 2010, Liu Xia merupakan tahanan rumah. Namun dia diijinkan menengok suaminya yang sekarat di rumah sakit, untuk mengucapkan selamat tinggal.


Dokter yang merawat Liu mengatakan Xia terus berada di sisi suaminya hingga dia mengembuskan napas terakhir di usia 61 tahun, pada Kamis (13/7) setelah berjuang melawan kanker hati. Liu dipindah ke rumah sakit sebulan lalu dari penjara di kota Shenyang, setelah penyakitnya semakin parah.

Dokter menyebut, Liu berpesan pada istrinya agar “hidup dengan baik.”

Di luar itu, pemerintah China tidak mengijinkan Liu Xia melakukan kontak dengan dunia luar, bahkan keberadaannya pun tidak diketahui, sebelum dia diijinkan menemui sang suami di rumah sakit.

“Kami meminta pemerintah China membebaskan Liu Xia sebagai tahanan rumah dan mengijinkannya keluar negeri, ke negara yang dia inginkan,” ujar Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson, dilansir AFP.


Sementara Uni Eropa meminta agar pemerintah mengijinkan Liu Xia menguburkan suaminya dengan layak “di lokasi mana pun yang mereka inginkan, agar mereka bisa berduka dengan tenang.”

Sementara itu, Jared Genser, pengacara AS yang mewakili Liu menyebut, semua kontak dengan Liu Xia sudah diputus selama 48 jam terakhir.

“Saya sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi pada Liu Xia,” kata Genser pada CNN.

Dia juga menambahkan, komunitas internasional harus ikut berperan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan Liu Xia.

Demonstran pro demokrasi di Hong Kong mengacungkan foto pemenang Nobel Perdamaian Liu Xiaobo dan istrinya Liu Xia dalam sebuah aksi protes di Hong Kong, Juni lalu.Demonstran pro demokrasi di Hong Kong mengacungkan foto pemenang Nobel Perdamaian Liu Xiaobo dan istrinya Liu Xia dalam sebuah aksi protes di Hong Kong, Juni lalu. (AFP PHOTO / Aaron TAM)
“Dunia harus ikut terlibat dan memastikan Liu Xia bisa pergi kemana pun yang dia mau dan menguburkan suaminya sesuai dengan pilihannya,” papar Gesner.

Adapun, menurut teman dan kolega Liu Xia, kedua orang tuanya sudah meninggal tahun lalu dan istri mendiang pemenang Nobel Perdamaian itu juga kini depresi.

“Setelah Liu Xiaobo meninggal, tujuan utama kami adalah menyelamatkan Liu Xia dari kepahitan,” kata Hu Jia, aktivis asal Beijing.

“Kami akan menggunakan opini dan tekanan publik untuk mendesak pemerintah China membuka ‘kandang’ agar Liu Xia bisa bebas, begitu juga dengan saudara laki-lakinya,” tambah Hu.


Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menolak menerima kritik yang dilayangkan komunitas internasional atas cara mereka menangani Liu Xiaobo, yang berujung kematian sang penerima Nobel.

Geng mengatakan dokter telah “melakukan segala cara untuk menyelamatkan Liu.”

“China adalah negara hukum. Cara kami menangani Liu Xiaobo adalah urusan dalam negeri dan negara-negara lain tidak berhak ikut campur,” ujar Geng, dilansir Xinhua.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menyebut China salah karena tidak mengijinkan Liu berobat ke luar negeri dan Jerman menyesalkan keputusan China yang menolak tawaran negara itu untuk merawat Liu.

Liu dipenjara pada 2008 setelah menulis petisi reformasi demokrasi. Setahun kemudian, dia dihukum 11 tahun penjara atas tuduhan ‘subversi’.

Dia menjadi penerima Nobel Perdamaian pada 2010 saat dipenjara dan Liu merupakan penerima Nobel Perdamaian pertama yang meninggal dalam tahanan, setelah Pasifis Jerman Carl von Ossietzky pada 1938, yang ditahan Nazi.