logo CNN Indonesia

Tujuh Juta Warga Venezuela Ingin Lengserkan Presiden

, CNN Indonesia
Tujuh Juta Warga Venezuela Ingin Lengserkan Presiden Kelompok oposisi Venezuela menggelar referendum tak resmi sebagai bentuk protes atas pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. (Miraflores Palace/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari 7 juta warga Venezuela dilaporkan ikut serta dalam referendum tak resmi yang digagas kelompok oposisi pemerintah pada Minggu (16/7).

Referendum simbolis itu digelar oposisi untuk semakin menekan Presiden Nicolas Maduro agar mundur dari kepemimpinan, sekaligus menjadi bentuk penolakan atas rencana sang pemimpin menulis ulang konstitusi negara.

Pemimin oposisi, Maria Corina, menganggap referendum pada akhir pekan itu sebagai sebuah keberhasilan rakyat.

“Tanggal 16 Juli menandakan kemenangan martabat dan kekalahan tirani. Kami telah menghasilkan mandat yang tak terbantahkan lagi untuk membangun Venezuela baru yang dimulai besok,” tutur Corina.

Sebanyak 7,2 juta warga ikut serta dalam referendum tak resmi kemarin. Jumlah tersebut lebih rendah dari gelaran pemilu legislatif yang juga digagas oposisi pada 2015 lalu yang bisa meraup hingga 7,7 juta suara partisipasi.


Dari 95 persen surat suara yang telah terkumpul, terhitung sebanyak 98 persen pemilih menolak rencana pembentukan konstitusi baru, mendesak militer mendukung serta mempertahankan konstitusi negara yang sudah ada.

“Maduro telah melakukan semuanya dengan sangat buruk. Dan sekarang, melalui majelis konstituen yang tidak benar, dia ingin membeli waktu [mempertahankan kekuasaannya]. Namun, waktu dia telah habis,” ucap Rafael Betancourt, salah satu warga yang mendukung referendum.

“Ini adalah bukti bahwa orang-orang akan menendang siapapun yang menyebabkan kami [warga] kelaparan dan berada dalam keputusasaan,” tuturnya menambahkan.

Menurut akademisi dan pemantau referendum, sebagian besar pemilih juga mendukung digelarnya pemilihan umum sebelum masa kepemimpinan Maduro selesai, yakni sekitar awal 2019.

Pemungutan suara dibuka di sejumlah tempat publik seperti bioskop, lapangan olah raga, dan sudut-sudut jalan raya.

Pelaksanaan referendum tidak resmi itu pun diwarnai bentrokan di beberapa daerah seperti di Catia dan Caracas. Oknum bersenjata disebut melepaskan serangkaian tembakan ke arah kerumunan pemilih, menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya.


Tidak hanya warga dalam negeri, diaspora Venezuela di luar negeri juga turut memilih dalam referendum tersebut, yang semakin menunjukkan penentangan rakyat terhadap kepemimpinan Maduro.

Sejumlah pegawai negeri yang selama ini ditekan pemerintah untuk tak ikut berpartisipasi juga berkeras untuk ikut memilih dalam referendum tersebut. Beberapa orang mencari cara kreatif agar tetap bisa memilih, seperti izin pergi keluar kota hingga menyamarkan diri.

Diberitakan Reuters, referendum ini seakan menjadi puncak dari demonstrasi besar-besaran yang tengah berlangsung sejak 1 April lalu yang kerap berakhir bentrok dengan petugas keamanan.

Sejauh ini, sekitar 90 orang tercatat telah tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat.

Pihak berwenang juga mengatakan, sekitar 3.500 orang telah ditangkap dan 1.000 lainnya terluka akibat pergolakan politik dan ekonomi yang mendera negara di Amerika Selatan itu.

(les)

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video