Pacari Militan ISIS, Puluhan TKI di Hong Kong Teradikalisasi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 27/07/2017 14:22 WIB
Pacari Militan ISIS, Puluhan TKI di Hong Kong Teradikalisasi Ilustrasi. (Reuters/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 45 orang dari 150 asisten rumah tangga asal Indonesia di Hong Kong dilaporkan terlibat dalam kegiatan kelompok militan ISIS, termasuk menikah dengan militan melalui internet.

Fakta ini terkuak dalam sebuah laporan yang dirilis oleh Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) pada Rabu (26/7).

Laporan itu menyebutkan, kesepian dan perasaan tidak cocok dengan lingkungan baru disebut sebagai alasan utama para perempuan ini akhirnya terjerat terorisme.


"Beberapa perempuan ini ditarik oleh kekasih militan yang mereka temui di internet. Namun, beberapa dari mereka juga bergabung dengan ISIS sebagai jalan menuju emansipasi," ujar analis IPAC, Nava Nuraniyah kepada Channel NewsAsia.

Kecenderungan ini pertama kali terlihat dalam diri dua TKI perempuan yang ditahan atas tuduhan perencanaan bom bunuh diri di Bali dan Jakarta pada Desember 2016 lalu.
Dari penyelidikan mendalam terhadap kedua perempuan ini, ditemukan satu kesamaan pendapat para TKI mengenai militan ISIS sehingga mereka rela melakukan apa pun demi kekasihnya tersebut.

"Mereka melihat para militan sebagai pahlawan hingga akhirnya rela menawarkan bantuan finansial dan logistik. Beberapa dari mereka membangun hubungan personal dan membantu para militan ke Suriah atau berupaya menyusul mereka," katanya.

Selain melalui jagat maya, para TKI itu biasanya bersentuhan dengan dunia terorisme melalui pertemuan komunitas-komunitas Muslim di Hong Kong.

"Mereka biasanya mencari perasaan menyatu dengan komunitas yang sama di tengah lingkungan yang tidak mereka kenal," demikian bunyi laporan IPAC sebagaimana dikutip Channel NewsAsia.

Komunitas Muslim itu kian berkembang seiring dengan bertambahnya intensitas dakwah oleh para imam dari Indonesia.
Awalnya, dakwah itu berisi ceramah-ceramah moderat, tapi kelamaan bergeser ke pembicaraan yang lebih ideologis, termasuk Salafi dan jihadi.

"Perempuan Indonesia ini menemukan teman di kelompok-kelompok dakwah tersebut yang terkadang dianggap sebagai keluarga sendiri. Ketika salah satu dari mereka masuk ke lingkaran radikal, yang lain mengikuti," tulis IPAC.

Untuk mencegah meluasnya dampak dari gerilya radikalisasi ini, IPAC mengimbau pemerintah untuk melakukan pelatihan sebelum mengirim TKI ke luar negeri.

"Pemerintah harus memastikan para migran ini menerima informasi mengenai hak dan risiko mereka dieksploitasi, termasuk dari para kekasih di dunia maya dan para ustaz yang mengambil keuntungan dari kebutuhan keagamaan dan emosional TKI," lapor IPAC.

IPAC juga mengimbau perwakilan pemerintah di Hong Kong bekerja sama dengan para imam moderat untuk memastikan ulama ekstrem tidak menyebarkan kebencian dan kekerasan dalam ceramah-ceramahnya.

"Pada akhirnya, rekan terbaik untuk pemerintah Indonesia dan Hong Kong dalam mencegah radikalisasi pekerja migran adalah memperluas jaringan komunitas Muslim," tulis IPAC.