logo CNN Indonesia

Pemilu Kenya Ricuh, 11 Orang Meninggal

, CNN Indonesia
Pemilu Kenya Ricuh, 11 Orang Meninggal Tindakan Kepolisian Kenya telah membuat setidaknya 11 orang meninggal dalam sebuah demonstrasi karena kemarahan hasil pemilihan presiden ulang. (REUTERS/Goran Tomasevic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tindakan Kepolisian Kenya telah membuat setidaknya 11 orang meninggal dalam sebuah demonstrasi karena kemarahan pada kemenangan Presiden Uhuru Kenyatta dalam pemilihan umum ulang yang meletus di kota Kisumu dan daerah kumuh di sekitar ibu kota.

Dilansir dari Reuters, koalisi oposisi, National Super Alliance of Kenya (NASA), yang dipimpin oleh calon presiden Raila Odinga, menyatakan korban tewas lebih dari 100, termasuk 10 anak, namun tidak memberikan bukti. Odinga telah menolak hasil pemilu tersebut dan menyebutnya sebagai penipuan besar-besaran.

Letusan kekerasan telah mengingatkan kenangan sekitar satu dekade yang lalu, ketika Odinga, yang sekarang berusia 72 tahun, kalah di sebuah pemilihan dalam keadaan kontroversial, yang memicu gelombang kerusuhan politik dan etnis di mana 1.200 orang terbunuh dan 600 ribu orang mengungsi.

Kofi Annan, mantan Kepala Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang melakukan mediasi selama krisis tersebut, mengeluarkan sebuah pernyataan yang memperingatkan para pemimpin Kenya untuk "berhati-hati dengan retorika dan tindakan" mereka dalam suasana tegang ini.

Reuters mampu mengkonfirmasi 11 kematian, termasuk seorang gadis, dalam waktu 24 jam. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya mengatakan 24 orang telah ditembak mati oleh polisi sejak Selasa, hari pemilihan.

Letnan Odinga Johnson Muthama mengatakan bahwa polisi telah membawa mayat ke dalam kantong jenazah dan membuangnya. Pernyataan itu kemungkinan memperburuk ketegangan yang disusul pengumuman resmi Jumat malam bahwa Kenyatta telah menang, dengan 54,3 persen suara.

Mwenda Njeka, juru bicara Kementerian Dalam Negeri, mengatakan bahwa klaim oposisi tersebut "omong kosong".

Plt Menteri Dalam Negeri Kenya Fred Matiang'i sebelumnya mengatakan bahwa masalah itu dilokalisasi dan menyulutnya kepada "elemen kriminal" daripada protes politik yang sah. Dia juga membantah tuduhan brutalitas polisi.

"Mari kita jujur. Tidak ada demonstrasi yang terjadi. Individu atau geng yang menjarah toko-toko, yang ingin membahayakan kehidupan, yang melanggar bisnis orang-orang, itu bukan demonstran. Mereka adalah penjahat dan kami mengharapkan polisi menangani penjahat bagaimana penjahat harus ditangani," katanya.
(gir)

0 Komentar
Terpopuler
CNN Video