Rudal Korut Hanya Tipu Daya untuk Dapat Bantuan

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 15/08/2017 10:57 WIB
Rudal Korut Hanya Tipu Daya untuk Dapat Bantuan Korut menjadi negara yang ditakuti karena ancaman rudalnya. Namun menurut pengamat, ancaman itu merupakan cara Korut untuk mendapatkan bantuan ekonomi. (Reuters/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ancaman serangan rudal dan nuklir Korea Utara yang terus didengungkan membuat negara pimpinan Kom Jong-un terlihat kuat, namun pengamat menyebut pernyataan itu justru mencerminkan kelemahan. 

"Bagi Pyongyang, langkah itu akan hanya untuk provokasi. Kelakuan baik hanya akan menghasilkan sikap tak acuh dari negara tetangga yang kaya. Berperilaku buruk dapat menghasilkan pengaruh dan dana bantuan miliaran," ujar Sung-Yoon Lee, guru besar studi Korea di Universitas Tufts, Amerika Serikat.

Lee lantas menuturkan bahwa negara-negara yang sekarang ini masih terus menegur Korut untuk menghentikan program nuklirnya sebenarnya masih memberikan bantuan berdasarkan asas "diplomasi untuk mencegah bahaya."


"Mengekspor ketakutan sudah terbukti menjadi cara Korut untuk mendapatkan bantuan," tutur Lee kepada CNBC, sebagaimana diktuip AsiaOne.

Ia kemudian membeberkan, selama dua dekade belakangan Korut sudah menerima bantuan senilai US$20 miliar dalam bentuk uang tunai, makanan, bahan bakar, juga obat-obatan dari Amerika Serikat, Jepang, China, dan Korea Selatan.
Menurut Lee, Korut bisa mendapatkan bantuan sebesar itu berkat "janji-janji palsu mengenai penghentian program nuklir."

Selama ini, Pyongyang terus berjanji akan menghentikan program nuklirnya. Pada 2007, negara itu sepakat untuk menutup semua fasilitas nuklirnya dengan timbal balik bantuan ekonomi dan bahan bakar minyak.
Pengamat menyebut Korea Utara tetap mendapat bantuan dari negara-negara yang sekarang mengecamnya sebagai upaya diplomasi.Pengamat menyebut Korea Utara tetap mendapat bantuan dari negara-negara yang sekarang mengecamnya sebagai upaya diplomasi.(KCNA via Reuters)
Belakangan, rezim Kim kembali menyatakan akan menghentikan uji coba rudal dan nuklir jika AS menangguhkan latihan gabungan militer dengan Korsel.

Kini, kata Lee, Korut juga memainkan strategi yang sama apalagi Korsel sekarang dipimpin oleh Presdien Moon Jae-in. Sejak kampanye, Moon berhanji akan memperkuat hubungan antar-Korea dan bantuan kemanusiaan.

"Korut ingin menggunakan nuklir mereka untuk mendapatkan posisi yang lebih baik, juga mengejek Korsel. Pyongyang akan memeras pemerintah Moon. Pola provokasi-negosiasi-dan bantuan pun akan berlanjut," tutur Lee. (yns)