Resolusi ini dirancang untuk memenuhi enam tujuan utama: membatasi impor minyak Korea Utara, melarang ekspor tekstil, mengakhiri kontrak pekerja di luar negeri, menekan upaya penyelundupan, menghentikan kerja sama dengan negara-negara lain dan menjatuhkan sanksi untuk entitas pemerintahan Korut.
Hal itu disampaikan oleh seorang pejabat Amerika Serikat yang dekat dengan proses negosiasi PBB kepada CNN, Selasa (12/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, tak lama setelahnya, Amerika kembali mengajukan draf baru yang tak disertai embargo minyak penuh, pembekuan aset dan larangan bepergian untuk Kim Jong-un. Draf baru ini juga menggunakan bahasa yang lebih halus dalam hal pekerja asing dan sejumlah masalah lain.
Sebagai anggota tetap DK PBB, Rusia dan China sama-sama mempunyai hak veto dan sempat menyuarakan keraguan atas draf awal yang diajukan AS. Mengutip sejumlah diplomat, Reuters melaporkan bahwa sanksi tersebut akhirnya diperhalus untuk menyenangkan China dan Rusia.
Menteri Luar Negeri Korut melalui pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah mengatakan jika AS "mendorong resolusi ilegal dan tidak berdasar hukum itu," Pyongyang akan memberi respons keras.
"Langkah yang akan diambil Korit akan mengakibatkan AS mengalami penderitaan terbesar dalam sejarah."
(aal)