Korea Utara Ancam Tenggelamkan Jepang

Reuters , CNN Indonesia | Kamis, 14/09/2017 12:49 WIB
Korea Utara Ancam Tenggelamkan Jepang Pemerintahan Kim Jong-un (baju hitam) mengancam akan menenggelamkan Jepang dengan bom nuklir. (KCNA/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Korea Utara mengancam menggunakan senjata nuklir untuk menenggelamkan Jepang dan menghanguskan Amerika Serikat karena mendukung sanksi terbaru Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Hal tersebut disampaikan Komisi Perdamaian Asia-Pasifik Korea, badan pemerintah Korut yang menangani propaganda dan hubungan luar negeri. Badan itu juga menyerukan pembubaran Dewan Keamanan yang disebut sebagai "alat kejahatan" yang terdiri dari negara-negara yang disuap AS.

"Keempat pulau di kepulauan [Jepang] mesti ditenggelamkan ke lautan menggunakan bom nuklir Juche. Kehadiran Jepang tidak lagi diperlukan bagi kami," kata komisi tersebut dalam laporan KCNA yang dikutip Reuters, Kamis (14/9).

Juche adalah ideologi Korea Utara yang mencampurkan Marxisme dan bentuk nasionalisme ekstrem yang digagas pendiri negara, Kim Il Sung, kakek dari pemimpin negara saat ini, Kim Jong-un.

Ketegangan regional meningkat signifikan sejak negari terisolasi itu melakukan uji coba nuklir untuk keenam kalinya pada 3 September lalu. Nuklir yang diledakan saat itu juga menjadi yang terkuat sejauh ini.

Dewan Keamanan PBB yang terdiri dari 15 negara anggota mengadopsi dengan suara bulat resolusi yang digagas AS dan serangkaian sanksi baru terkait uji coba nuklir tersebut. Hukuman itu melarang ekspor tekstil Korea Utara yang merupakan pemasukan kedua terbesar setelah batu bara dan mineral.
Pyongyang merespons tindakan PBB yang didukung dua sekutunya, China dan Rusia, dengan menegaskan ancaman untuk menghancurkan Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan. China dan Rusia yang mempunyai hak veto mendukung sanksi tersebut setelah AS meringankan hukuman yang diajukan.

"Mari kita hanguskan daratan utama Amerika Serikat. Mari kita luapkan amarah dengan mobilisasi semua langkah pembalasan yang telah kita siapkan hingga saat ini," bunyi pernyataan tersebut.