Pada Kamis waktu setempat (28/9), DK PBB menggelar rapat terbuka pertama membahas krisis yang disebut sebagai "pembersihan etnis" itu dalam delapan tahun terakhir.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada Dewan bahwa gelombang kekerasan tersebut telah "berkembang menjadi salah-satu keadaan tercepat darurat pengungsi, mimpi buruk kemanusiaan dan hak asasi manusia."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratusan Rohingya tiba di Bangladesh menggunakan kapal di balik bayang-bayang kegelapan pada 26 Agustus 2017, menambah jumlah pengungsi menjadi separuh juta.
Setidaknya 500 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak kekerasan semakin meningkat akhir Agustus lalu, membawa cerita soal pengrusakan besar-besaran dan pembunuhan di kampung halamannya.
Muslim Rohingya dinilai sebagai salah satu kelompok yang paling parah dipersekusi. Myanmar yanh didominasi warga Buddha menganggap mereka sebagai warga Bangladesh, tapi negara itu justru menyatakan sebaliknya.
[Gambas:Video CNN]
Hasilnya, mereka secara efektif tak mempunyai status kewarganegaraan.
Pada 25 Agustus, kelompok bersenjata Rohingya menewaskan 12 pasukan keamanan Myanmar, kata pemerintah. Sebagai tanggapan, militer meningkatkan "operasi pembersihan" terhadap "teroris."
Rapat DK PBB dilakukan saat 15 Rohingya, termasuk sembilan anak-anak, tenggelam karena kapalnya karam saat melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh. Sementara itu, antrean para pengungsi terus mengular di kamp pengungsian Kutupalong di Ukhia, Bangladesh, pada 28 September.
Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (REUTERS/Danish Siddiqui) |
Pemerintah Myanmar berulang kali menampik tudingan tersebut, mengklaim pasukan keamanan melaksanakan serangan balasan atas "aksi brutal terorisme."
Penasihat Keamanan Myanmar U Thaung Tun menyalahkan terorisme, bukan persekusi religius, sebagai akar dari krisis ini. Dia mengatakan "tidak ada pembersihan etnis atau genosida" di Myanmar dan menyatakan tudingan itu tidak boleh begitu saja dilontarkan.
Meski sudah melontarkan pernyataan keras, tidak ada tindakan yang dilakukan setelah rapat. Para duta besar mengatakan mereka merasa dewan keamanan telah mengirim pesan keras pada Myanmar.
(aal)
Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (REUTERS/Danish Siddiqui)