Sejak 25 Agustus lalu, setelah penyerangan terhadap sejumlah pos polisi di negara bagian Rakhine terjadi, bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer Myanmar tak terhindarkan hingga memaksa ratusan ribu pengungsi Rohingya kembali membanjiri negara tetangga terutama Bangladesh untuk mengungsi.
Bahkan konflik di Rakhine itu diperkirakan telah menelan korban sebanyak 1.000 jiwa yang sebagian besar merupakan Muslim Rohingya. Myanmar pun kembali menjadi sorotan dunia internasional lantaran dianggap gagal melindungi warganya sendiri dengan membiarkan kekerasan terus menimpa warga minoritasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebenarnya apa penyebab gesekan antara militer dan etnis minoritas di Myanmar? Adakah kepentingan militer di balik konflik ini?
Ini pertanyaan yang merupakan inti masalah dari persoalan yang dihadapi setiap negara—tidak hanya Myanmar—khususnya pada negara yang tersusun dari masyarakat multi-etnis. Bahwa untuk melalui proses integrasi nasional dan pembangunan bangsa akan selalu terjadi dinamika dan gejolak-gejolak dalam masyarakatnya. Indonesia juga pernah mengalami masa seperti ini selama bertahun-tahun pada awal mula terbentuk.
Masalah Myanmar ini sudah berlangsung puluhan tahun, bukan hanya setahun atau dua tahun saja. Sudah ada 4 kali penunjukkan pelapor khusus PBB untuk memantau isu dugaan pelanggaran HAM di Myanmar. Satu pelapor memiliki mandat kerja selama 5 tahun, ini kan berarti sudah 20 tahun berjalan.
Sejarah Myanmar adalah sejarah yang penuh dan diwarnai konflik etnis yang juga tak jarang diikuti dengan dimensi keagamaan pada awal-awal berdirinya negara ini. Intinya lebih tertuju pada pertentangan etnis.
[Gambas:Video CNN]
Ada sekitar 135 etnis di Myanmar. Sekarang mungkin bisa dikatakan bahwa pemerintah Myanmar sedang berhadapan dengan 10 konflik etnis secara serentak, ya. Kita bisa bayangkan rumitnya konflik di sana dan posisi pemerintah dalam hadapi masalah yang berhubungan dengan integrasi nasionalnya.
Selain itu, sejarah Myanmar juga tentu tidak lepas dari suatu masa saat berada di bawah pemerintahan yang sangat terpusat dan didominasi militer. Dengan reformasi politik pada 2012 lalu, maka muncul pelonggaran keadaan sehingga daerah-daerah kini mulai merasakan bahwa mereka memiliki ruang untuk bergerak. Ini lah yang sekarang menjadi dinamika. Karena adanya pelonggaran sistem dari pusat sehingga muncul [pergerakan] di daerah-daerah setelah begitu lama menghadapi tekanan.
Ini lah yang menjadikan situasi lebih rumit dari yang terlihat. Tapi yang terjadi di Rakhine ini skalanya jauh lebih besar.
Apakah ini artinya kejadian yang sama tidak hanya terjadi pada Muslim Rohingya saja, tapi juga dirasakan pada etnis minoritas lainnya?
Ya, betul. Satu konflik etnis ini tidak lepas dari konflik di wilayah lainnya. Dengan demikan, konflik di Rakhine juga berdampak ke daerah lain. Sehingga masalah ini tidak berdiri sendiri. Masalah ini juga dirasakan oleh kelompok etnis lain.
Selain di Rakhine, konflik komunal juga terjadi di negara bagian Katchin, utara Myanmar, negara bagian Shan, dan beberapa wilayah lainnya. Ini yang sedang kami verifikasi lagi karena memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Kami akan kirimkan tim pendahulu ke wilayah-wilayah lain yang berbatasan langsung dengan Myanmar seperti di Thailand dan Malaysia sehignga bisa mendapat gambaran umum mengenai konflik ini.
Itu tidak bisa diingkari bahwa telah terjadi pelanggaran HAM yang dari waktu-kewaktu terus memuncak. Nah, saat ini persoalannya apakah maslaah ini jadi perhatian Myanmar tidak bahwa pemerintah melaksanakan proses integrasi bangsanya dengan memperhatikan prinsip-prinsip HAM.
Bagaimana dengan isu SARA yang kerap didengungkan dalam konflik ini?
Kita tidak bisa mengingkari bahwa hakikat dari susunan bangsa Myanmar itu berbasis etnis. Karena itu kalau ada konflik, maka konflik-konflik ini memiliki nilai etnis yang nyata dan terlihat betul. Falsafah dari negara itu juga didasarkan pada pengakuan etnisitas dalam kelompok masyarakatnya.
Ini unik untuk Myanmar dan karena itu evolusi kebangsaan Myanmar ini akan berjalan sepanjang garis perkembangan etnis di negara itu.
Umumnya boleh dikatakan bahwa keadaan di dalam negeri bisa dikelola pada tingkatan di mana walau terjadi ketegangan, kekeraan itu terlokalisasi dalam bentuk konflik. Tapi konflik ini tidak serta-merta melibatkan seluruh bangsa atau etnisnya. Konflik hanya antara kelompok bersenjata [pemberontak] yang mewakili suatu etnis tersebut dan melawan pemerintah.
Pengungsi Rohingya. (REUTERS/Danish Siddiqui) |
[Di sisi lain] pemerintah Myanmar dalam pernyataan publiknya menyatakan isu kewarganegaraan ini khusus masalahnya, tidak mencerminkan keadaan Myanmar secara keseluruhan.
Apakah isu bangkitnya kelompok bersenjata ARSA juga ikut memperkeruh situasi di Myanmar khususnya Rakhine?
Soal kelompok bersenjata, ini memerlukan analisiis lebih jauh mengenai sebab dan akibatnya. Dan tidak mudah saat ini untuk memastikan itu karena begitu banyak versi beredar. Masih diperlukan penelitian lebih jauh seperti mendapat kesaksian-kesaksian dari para pengungsi di Bangladesh untuk ketahui sebetulnya apa yang memicu mereka berpindah secara terpaksa dan apa penyebab kekerasan bisa terjadi. Dan kita juga perlu memastikan apakah para pengungsi memiliki pertalian dengan kelompok bersenjata itu.
Ini yang sekarang perlu didahulukan meski Myanmar membantah terjadinya pembunuhan besar-besaran yang kemudian memicu reaksi dunia internasional.
Pengungsi Rohingya. (REUTERS/Danish Siddiqui)