Pasca Insiden Las Vegas, AS Mulai Bicarakan Aturan Senjata

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 13:59 WIB
Pasca Insiden Las Vegas, AS Mulai Bicarakan Aturan Senjata Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, memastikan kesiapan AS untuk membicarakan pelarangan bump stocks, alat yang dapat membuat senapan semi-otomatis bekerja layaknya senjata otomatis. (AFP Photo/Saul Loeb)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah insiden berdarah Las Vegas, Amerika Serikat akhirnya menyatakan kesiapan membicarakan aturan pelarangan bump stocks, alat yang dapat membuat senapan semi-otomatis bekerja layaknya senjata otomatis.

"Semua pihak dan sejumlah organisasi berencana membahas bump stocks. Kami menyambut itu dan ingin menjadi bagian dalam perbincangan ini," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders, Kamis (5/10).

Pembicaraan ini dianggap mulai sangat serius karena salah satu kelompok pelobi yang selama ini menolak gagasan pengetatan aturan senjata, Asosiasi Senapan Nasional (NRA), juga mendukung upaya Kongres AS.


"NRA percaya bahwa alat yang dirancang untuk membuat senjata semi-otomatis berfungsi seperti senjata otomatis harus menjadi subjek dalam regulasi baru," demikian pernyataan NRA sebagaimana dilansir AFP, Kamis (5/10).
Kedua pernyataan ini pun mendorong Partai Republik di Kongres untuk ikut serta dalam perbincangan pengetatan aturan senjata, satu isu yang selama ini mereka tolak mengingat banyak anggota menerima suntikan dana dari NRA.

"Jelas ini merupakan sesuatu yang harus kami perhatikan. Orang semakin terdesak karena melihat hal ini," ucap Paul Ryan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS yang juga merupakan perwakilan Partai Republik di Kongres.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Partai Demokrat sendiri sudah sejak lama mendesak pembicaraan mengenai pelarangan bump stocks.

Pengamat pun mengatakan bahwa sekarang adalah momentum yang tepat bagi Kongres untuk memulai pembicaraan regulasi senjata.

Isu ini kembali mencuat setelah insiden berdarah terjadi di Los Angeles pada Minggu (1/10), ketika seorang penembak bernama Stephen Paddock memberondong peluru ke arah kerumunan yang sedang menonton konser hingga menewaskan 58 orang.