"Dia tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya atau melakukan tindakan yang saya pahami sebagai peringatan bahwa sesuatu yang mengerikan seperti ini akan terjadi," ujar Danley dalam pernyataan tertulisnya, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (4/10).
Dalam pernyataan yang dibacakan oleh kuasa hukumnya tersebut, Danley bahkan menjelaskan bahwa saat Paddock menjalankan aksinya, ia sedang berada di Filipina, kampung halamannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama Danley memang kerap disebut-sebut selama proses penyelidikan karena dilaporkan menerima uang sebesar US$100 ribu dari Paddock sebelum insiden berdarah itu terjadi.
"Saya tidak pernah mengetahui bahwa sebenarnya dia merencanakan aksi kekerasan terhadap siapa pun," katanya.
Ia pun menyampaikan belasungkawa mendalam bagi para korban yang tewas dalam aksi Paddock di Las Vegas pada akhir pekan lalu.
"Saya adalah seorang ibu dan nenek dan hati saya hancur bagi semua yang kehilangan orang tersayang," tulisnya.
[Gambas:Video CNN]
Di akhir pernyataannya, Danley memastikan bahwa ia akan membantu Badan Investigasi Federal (FBI) dalam proses penyelidikan insiden yang disebut-sebut sebagai penembakan terbesar sepanjang sejarah modern AS tersebut.
Danley sendiri mengaku terbang kembali ke AS dua hari setelah tragedi itu atas kehendak sendiri, untuk membersihkan namanya yang sempat disebut-sebut dalam proses penyelidikan.