Kekasih Penembak Las Vegas Klaim Tak Terlibat Aksi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 05/10/2017 10:41 WIB
Marilou Danley, kekasih pelaku penembakan di Las Vegas, mengaku sama sekali tak mengetahui rencana aksi Stephen Paddock yang menewaskan 59 orang pada Minggu. Marilou Danley, kekasih pelaku penembakan di Las Vegas, mengaku sama sekali tak mengetahui rencana aksi Stephen Paddock yang menewaskan 59 orang pada Minggu. (Courtesy Las Vegas Metropolitan Police Department/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Marilou Danley, kekasih pelaku penembakan di Las Vegas, mengaku sama sekali tak mengetahui rencana aksi Stephen Paddock yang menewaskan 59 orang pada Minggu (1/10).

"Dia tidak pernah mengatakan apa pun kepada saya atau melakukan tindakan yang saya pahami sebagai peringatan bahwa sesuatu yang mengerikan seperti ini akan terjadi," ujar Danley dalam pernyataan tertulisnya, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (4/10).

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh kuasa hukumnya tersebut, Danley bahkan menjelaskan bahwa saat Paddock menjalankan aksinya, ia sedang berada di Filipina, kampung halamannya.
Danley mengatakan, ia pulang ke Filipina karena pada dua pekan lalu, Paddock membelikan tiket pesawat murah agar kekasihnya bisa pulang menemui keluarganya di Filipina.


"Layaknya semua warga Filipina di luar negeri, saya bersemangat pulang ke rumah dan bertemu keluarga dan teman. Selama saya di sana, dia mengirimkan saya uang untuk membeli rumah bagi saya dan keluarga saya," tutur Danley.

Nama Danley memang kerap disebut-sebut selama proses penyelidikan karena dilaporkan menerima uang sebesar US$100 ribu dari Paddock sebelum insiden berdarah itu terjadi.
Namun, saat Padddock mengirimkan uang itu, Danley hanya berpikir kekasihnya itu sebenarnya ingin memutus hubungan mereka.

"Saya tidak pernah mengetahui bahwa sebenarnya dia merencanakan aksi kekerasan terhadap siapa pun," katanya.

Ia pun menyampaikan belasungkawa mendalam bagi para korban yang tewas dalam aksi Paddock di Las Vegas pada akhir pekan lalu.

"Saya adalah seorang ibu dan nenek dan hati saya hancur bagi semua yang kehilangan orang tersayang," tulisnya.

[Gambas:Video CNN]

Di akhir pernyataannya, Danley memastikan bahwa ia akan membantu Badan Investigasi Federal (FBI) dalam proses penyelidikan insiden yang disebut-sebut sebagai penembakan terbesar sepanjang sejarah modern AS tersebut.

Danley sendiri mengaku terbang kembali ke AS dua hari setelah tragedi itu atas kehendak sendiri, untuk membersihkan namanya yang sempat disebut-sebut dalam proses penyelidikan.
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK