Rusia Gagal Pertemukan Parlemen Korut dan Korsel

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 17/10/2017 02:16 WIB
Rusia Gagal Pertemukan Parlemen Korut dan Korsel Situasi kawasan tegang karena ambisi Korut mengembangkan senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh. (KCNA/via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Niat Rusia untuk mempertemukan politikus Korea Utara dan Korea Selatan dilaporkan gagal. Pertemuan itu sedianya dilakukan untuk membahas situasi yang menegang akibat pengembangan senjata nuklir dan peluru kendali jarak jauh di kawasan.

Mengutip wakil ketua majelis rendah parlemen Rusia, Piotr Tolstoi, kantor berita RIA sebagaimana dikutip Reuters melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan langsung yang akan digelar antara kedua pemimpin parlemen negara di Rusia. Hal ini pun turut dikonfirmasi seorang delegasi Korut.

Dia menuturkan tekanan AS pada Korut hingga latihan militer gabungan antara Seoul dan Washington menjadi alasan rezim Kim Jong-un menolak pembicaraan tersebut.


Sebaliknya, delegasi Korsel dikabarkan siap bertemu dan berdialog langsung dengan tetangganya di utara tersebut.

Kabar ini muncul setelah ketua majelis tinggi parelemen Rusia, Valentina Matviyenko, mengundang masing-masing ketua legislatif Korut dan Korsel untuk hadir dalam kongres parlemen di St Petersburg pada Senin (16/10).

Matviyenko mengundang kedua mitranya itu untuk membahas krisis rudal di Semenanjung Korea secara terpisah. Rusia berharap kedua pihak bisa menggunakan pertemuan itu sebagai kesempatan untuk berdialog demi mempersempit perbedaan pandangan.
Sebab, dua bulan terakhir ini situasi di Semenanjung Korea semakin memanas karena Pyongyang berkeras mengembangkan senjata nuklir dan rudal meski sudah dijatuhi serangkaian sanksi internasional.

Pada awal September, Korut bahkan meluncurkan uji coba nuklir untuk keenam kalinya dengan meledakan bom hidrogen berkekuatan besar.

Ketua komite hubungan luar negeri majelis tinggi parlemen Rusia, Konstantin Kosachyov, mengatakan Moskow akan terus mencoba mendorong delegasi kedua pihak untuk bertatap muka langsung, meski belum tentu membuahkan hasil.

"Kami pasti tidak akan mencoba memaksa atau membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Namun, ini sayang sekali secara politik dan kemanusiaan jika kesempatan untuk mengurangi tensi antara Korsel-Korut dibiarkan begitu saja," bunyi laporan RIA mengutip Kosachyov.
Rencana mediasi yang turut didukung China ini, tuturnya, bertujuan untuk mendorong Korut agar menangguhkan program nuklir dan rudalnya.

Di sisi lain, dialog ini juga diharapkan bisa mendorong Korsel dan Amerika Serikat untuk menghentikan latihan gabungan skala besar sehingga krisis nuklir bisa lebih mudah diselesaikan.