Mengutip wakil ketua majelis rendah parlemen Rusia, Piotr Tolstoi, kantor berita RIA sebagaimana dikutip Reuters melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan langsung yang akan digelar antara kedua pemimpin parlemen negara di Rusia. Hal ini pun turut dikonfirmasi seorang delegasi Korut.
Dia menuturkan tekanan AS pada Korut hingga latihan militer gabungan antara Seoul dan Washington menjadi alasan rezim Kim Jong-un menolak pembicaraan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar ini muncul setelah ketua majelis tinggi parelemen Rusia, Valentina Matviyenko, mengundang masing-masing ketua legislatif Korut dan Korsel untuk hadir dalam kongres parlemen di St Petersburg pada Senin (16/10).
Matviyenko mengundang kedua mitranya itu untuk membahas krisis rudal di Semenanjung Korea secara terpisah. Rusia berharap kedua pihak bisa menggunakan pertemuan itu sebagai kesempatan untuk berdialog demi mempersempit perbedaan pandangan.
Pada awal September, Korut bahkan meluncurkan uji coba nuklir untuk keenam kalinya dengan meledakan bom hidrogen berkekuatan besar.
Ketua komite hubungan luar negeri majelis tinggi parlemen Rusia, Konstantin Kosachyov, mengatakan Moskow akan terus mencoba mendorong delegasi kedua pihak untuk bertatap muka langsung, meski belum tentu membuahkan hasil.
"Kami pasti tidak akan mencoba memaksa atau membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu. Namun, ini sayang sekali secara politik dan kemanusiaan jika kesempatan untuk mengurangi tensi antara Korsel-Korut dibiarkan begitu saja," bunyi laporan RIA mengutip Kosachyov.
Di sisi lain, dialog ini juga diharapkan bisa mendorong Korsel dan Amerika Serikat untuk menghentikan latihan gabungan skala besar sehingga krisis nuklir bisa lebih mudah diselesaikan.