Serangan tersebut menargetkan pusat pelatihan yang menyatu dengan markas besar kepolisian daerah di Gardez, ibu kota Provinsi Paktia. Tak lama setelah kejadian, kelompok Taliban mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Diberitakan AFP, Kementerian Dalam Negeri Afghanistan melaporkan bahwa kejadian bermula saat mobil berisikan bom meledak di dekat pusat pelatihan polisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kini daerah itu ditutup oleh unit respons krisis kepolisian dan tindakan lebih lanjut untuk memberantas para pelaku teroris sedang berlangsung," bunyi pernyataan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, seperti dikutip Reuters.
Tiga pejabat berwenang melaporkan bahwa kepala kepolisian provinsi Paktia menjadi salah satu dari belasan korban tewas tersebut. Namun, belum ada konfirmasi lebih lanjut.
Sementara itu, wakil direktur departemen kesehatan wilayah Gardez, Hedayatullah Hameedi, mengatakan sejumlah aparat kepolisian dan warga sipil, termasuk pelajar dan perempuan, juga menjadi korban tewas mau pun terluka.
Pengaruh serta kehadiran Taliban telah lama menjadi ancaman bagi pemerintah Afghanistan. Kelompok militan itu berulang kali melakukan serangan yang menargetkan tentara Afghanistan dan militer asing.
Sekitar awal Mei lalu, bom bunuh diri juga menyasar kompleks kedutaan besar Amerika Serikat di Kabul, menewaskan empat orang dan melukai 22 lainnya.
Pihak berwenang melaporkan, serangan itu mengincar konvoi kendaraan lapis baja pasukan misi Resolute Support NATO.
Taliban kembali meluncurkan serangkaian serangannya di Afghanistan setelah AS berencana mengerahkan pasukan tambahan ke negara di Asia Selatan itu demi membantu pemerintahan Presiden Ashraf Ghani memberangus kelompok tersebut.