New York Diteror, Trump Ketatkan Pemeriksaan Imigrasi

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 01/11/2017 09:56 WIB
Presiden Donald Trump mengatakan memerintahkan penguatan program Presiden Trump memerintahkan Kementerian Keamanan Dalam Negeri untuk meningkatkan pemeriksaan imigrasi. (AFP Photo/Mandel Ngan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump mengatakan telah memerintahkan Kementerian Keamanan Dalam Negeri untuk memperkuat program "pemeriksaan ekstrem" keimigrasian, menyusul insiden teror di New York pada Rabu (1/11) hingga menewaskan delapan orang dan melukai 11 lainnya.

"Saya baru saja memerintahkan Kementerian Keamanan Dalam Negeri untuk meningkatkan penerapan Program Pemeriksaan Ekstrem yang sudah ada. Benar secara politik memang baik, tapi tidak untuk hal ini!" kicau Trump melalui Twitter-nya.

Sejak kampanye pemilihan umum berlangsung, Trump memang telah berjanji akan memperketat aturan keimigrasian, terutama bagi para imigran ilegal di AS. Kebijakan itu dianggapnya mampu melindungi AS dari target teroris dan tindakan kriminal lain.


Serangan ini merupakan insiden pertama yang secara resmi disebut aksi teror di AS sejak Trump mulai menjabat pada Januari lalu. Belum lama ini terjadi penembakan massal yang dilakukan warga lokal di Las Vegas, tapi pemerintah tak pernah menyebutnya sebagai aksi terorisme.

Insiden teranyar bermula pada 5.05 Selasa waktu setempat, saat pelaku menabraki sejumlah pejalan kaki dan pengendara sepeda di sepanjang jalur sepeda di pinggir sungai Hudson, Manhattan.

Pelaku yang mengendarai truk kemudian bertabrakan dengan bus sekolah di Chamber Street, di mana dua orang dewasa dan dua anak-anak terluka.

Seorang saksi mata mengatakan mobil tersebut dipacu dengan kecepatan penuh ke arah selatan di jalur pejalan kaki dan pesepeda di pinggir West Side Highway.

Belakangan sumber penegak hukum mengidentifikasi pelaku sebagai Sayfullo Habibullaevic Saipov, seorang pria 29 tahun asal Uzbeksitan yang datang ke AS pada 2010.

Saipov meninggalkan sebuah catatan di truknya, mengaku melakukan serangan itu untuk ISIS. Otoritas sejauh ini menuturkan Saipov melancarkan teror itu seorang diri.

Masih melalui Twitter, Trump turut mengungkapkan rasa duka citanya bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.