Arab Saudi Bantah Paksa PM Libanon Mundur

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 20:43 WIB
Duta Besar Arab Saudi untuk RI Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi membantah negaranya memaksa PM Libanon, Saad Al-Hariri mengundurkan diri. Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi (REUTERS/Fatima El-Kareem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Arab Saudi membantah tudingan telah memaksa mantan Perdana Menteri Libanon, Saad Al-Hariri, mundur dari jabatannya pada Sabtu pekan lalu hingga memicu pergolakan politik di negara yang berbatasan dengan Suriah itu.

“Pengunduran PM Hariri tidak ada kaitannya dengan Saudi. Ini masalah internal mereka yang harus mereka selesaikan sendiri,” kata Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi di Jakarta, Rabu (15/11).

Komentar itu diutarakan Al Shuaibi menanggapi pernyataan Hizbullah yang menuduh Saudi memaksa Hariri mundur dari jabatannya. Hizbullah merupakan kelompok politik yang memiliki pengaruh cukup besar di Libanon dan didukung Iran, rival Saudi di kawasan.
Hariri mendeklarasikan keputusannya itu ketika dirinya berada di Riyadh. Melalui saluran televisi nasional Saudi, Hariri menyatakan mengundurkan diri sebagai orang nomor satu di Libanon karena merasa nyawanya tengah terancam.


Sebagaimana dikutip Reuters, Hariri mengatakan ia bersama istrinya merasa sedang menjadi target pembunuhan yang direncanakan Hizbullah, meski tanpa menjelaskan bukti konkret. Dia merasa iklim politik di negaranya belakangan ini serupa dengan atmosfer yang terjadi sebelum sang ayah, Rafik Al-Hariri, tewas.

Sang ayah tewas dalam sebuah serangan bom pada Februari 2005 lalu ketika masih menjabat sebagai PM. Serangan itu selalu dikaitkan dengan Hizbullah.
Hingga kini, Hariri dilaporkan masih berada di Riyadh. Presiden Libanon Michel Aoun mengatakan tidak akan menyetujui permohonan pengunduran diri Hariri sebelum ia pulang dan menjelaskan alasannya.

Aoun bahkan menganggap deklarasi pengunduran Hariri pekan lalu itu adalah sebuah pernyataan yang dibuat-buat Riyadh.

Saudi juga dituduh menghalang-halangi Hariri untuk pulang ke negaranya.

“Kami tidak pernah melarangnya [PM Hariri] untuk pulang ke Libanon. Hariri merasa Iran telah mengintervensi negaranya melalui Hizbullah. Kelompok itu kerap meluncurkan gerakan-gerakan politik di Libanon,” kata Al Shuaibi menampik tuduhan tersebut. (nat)