Mogherini mengatakan kunjungan delegasi yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari itu merupakan kesempatan untuk berbicara dengan Suu Kyi terkait tindakan keras militer yang membuat sekitar 620 ribu Muslim Rohingya terusir dari negara dengan penduduk mayoritas Buddha itu.
"Itu juga akan jadi kesempatan untuk bertukar pandangan dengan Aung San Suu Kyi dan pemerintah Myanmar terkait bagaimana untuk menyelesaikan krisis ini," ujarnya kepada wartawan di distrik Cox's Bazar, saat memantau sejumlah kamp pengungsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mogherini dan sejumlah menteri dari Asia dan Eropa mengunjungi kamp di perbatasan Bangladesh dengan Myanmar itu dan mendengar kesaksian menyedihkan dari masyarakat Rohingya yang terusir di sana sebelum bertemu dengan Suu Kyi.
Para pemimpin sipil Myanmar tengah dihadapkan pada kemarahan global atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine yang memicu eksodus menuju Bangladesh.
Namun, para pengungsi yang kini berada di sejumlah kamp di Bangladesh menuturkan kisah-kisah mengerikan secara konsisten, termasuk pembunuhan yang menyebar, pemerkosaan dan pembakaran yang dilakukan tentara.
Federica Mogherini menyebut para pengungsi membawa cerita-cerita menyedihkan. (Reuters/Francois Lenoir) |
"Sebagai seorang ibu, melihat sebegitu banyak anak-anak kecil mesti merawat anak-anak lain yang lebih kecil lagi jadi hal yang sangat memukul," ujarnya.
Bangladesh dan Myanmar telah sepakat secara prinsip untuk memulai repatriasi masyarakat Rohingya, meski masih berdebat soal detailnya.
Dhaka telah meningkatkan upaya untuk menekan Myanmar secara diplomatik agar kembali menerima para pengungsi. Negara yang mesti menerima para korban kekerasan itu juga telah menerima delegasi dari Kongres AS dan China sejak Sabtu pekan lalu.
Telah mengakomodasi lebih dari 200 ribu Rohingya sebelum eksodus terkini, Bangladesh sangat mengharapkan bantuan dari China, yang merupakan sekutu dekat Myanmar, dalam mengatur pemulangan para pengungsi.
"Pemerintah Bangladesh tengah bernegosiasi dengan pemerintah Myanmar. Kami berharap bisa membantu mencari solusi yang bisa dipertahankan," ujarnya.
(aal)
Federica Mogherini menyebut para pengungsi membawa cerita-cerita menyedihkan. (Reuters/Francois Lenoir)