Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Senin, 20/11/2017 07:55 WIB
Uni Eropa Ajak Suu Kyi Negosiasi soal Rohingya Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, diberikan kesempatan untuk bernegosiasi soal krisis Rohingya. (Reuters/Soe Zeya Tun)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diplomat tertinggi Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan akan membahas cara mengakhiri krisis Rohingya dengan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, saat keduanya bertemu di Yangon hari ini, Senin (20/11)

Mogherini mengatakan kunjungan delegasi yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari itu merupakan kesempatan untuk berbicara dengan Suu Kyi terkait tindakan keras militer yang membuat sekitar 620 ribu Muslim Rohingya terusir dari negara dengan penduduk mayoritas Buddha itu.

"Itu juga akan jadi kesempatan untuk bertukar pandangan dengan Aung San Suu Kyi dan pemerintah Myanmar terkait bagaimana untuk menyelesaikan krisis ini," ujarnya kepada wartawan di distrik Cox's Bazar, saat memantau sejumlah kamp pengungsi.


"Alih-alih memberikan tekanan, pendekatan kami selalu dan akan berupa penawaran ruang untuk bernegosiasi," kata Mogherini sebagaimana dikutip AFP.

Mogherini dan sejumlah menteri dari Asia dan Eropa mengunjungi kamp di perbatasan Bangladesh dengan Myanmar itu dan mendengar kesaksian menyedihkan dari masyarakat Rohingya yang terusir di sana sebelum bertemu dengan Suu Kyi.

Para pemimpin sipil Myanmar tengah dihadapkan pada kemarahan global atas kekerasan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine yang memicu eksodus menuju Bangladesh.
Militer Myanmar berkeras menyatakan hanya mengincar kelompok bersenjata Rohingya sebagai respons atas serangan mematikan terhadap polisi yang dilakukan pada akhir Agustus lalu.

Namun, para pengungsi yang kini berada di sejumlah kamp di Bangladesh menuturkan kisah-kisah mengerikan secara konsisten, termasuk pembunuhan yang menyebar, pemerkosaan dan pembakaran yang dilakukan tentara.
Federica Mogherini.Federica Mogherini menyebut para pengungsi membawa cerita-cerita menyedihkan. (Reuters/Francois Lenoir)
Mogherini mengatakan para pengungsi di kamp "membawa cerita-cerita yang sangat menyedihkan."

"Sebagai seorang ibu, melihat sebegitu banyak anak-anak kecil mesti merawat anak-anak lain yang lebih kecil lagi jadi hal yang sangat memukul," ujarnya.
Kunjungan ke kamp pengungsi itu dilakukan bersama menteri-menteri luar negeri dari Bangladesh, Jepang, Swedia dan Jerman sebelum mengunjungi Myanmar untuk menghadiri pertemuan tingkat menteri Asia-Eropa (ASEM), dua hari ini.

Bangladesh dan Myanmar telah sepakat secara prinsip untuk memulai repatriasi masyarakat Rohingya, meski masih berdebat soal detailnya.

Dhaka telah meningkatkan upaya untuk menekan Myanmar secara diplomatik agar kembali menerima para pengungsi. Negara yang mesti menerima para korban kekerasan itu juga telah menerima delegasi dari Kongres AS dan China sejak Sabtu pekan lalu.

Telah mengakomodasi lebih dari 200 ribu Rohingya sebelum eksodus terkini, Bangladesh sangat mengharapkan bantuan dari China, yang merupakan sekutu dekat Myanmar, dalam mengatur pemulangan para pengungsi.
Mogherini mengatakan upaya repatriasi itu merupakan langkah kunci yang mesti didukung.

"Pemerintah Bangladesh tengah bernegosiasi dengan pemerintah Myanmar. Kami berharap bisa membantu mencari solusi yang bisa dipertahankan," ujarnya.

(aal)