"[Korea Utara] telah membuat aturan di mana sebuah lembaga dari partai komunis melaporkan kesulitan yang dihadapi rakyat setiap harinya, dan melarang pertemuan dengan minum-minum, bernyanyi, dan aktivitas hiburan lainnya," kata Badan Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) kepada Parlemen di Seoul, Kamis (23/11).
Intelijen Korea Selatan menduga larangan itu diberlakukan Pyongyang menyusul kondisi keuangan yang semakin sulit lantaran terisolasi. Terutama setelah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) baru mengimbau negara-negara di dunia untuk membatasi hingga memutus hubungan dengan Korut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Larangan ini pun semakin dikuatkan setelah NIS mengetahui bahwa Korea Utara membatalkan festival bir Pyongyang yang selama ini rutin digelar pada bulan Juli, pasca kekeringan yang melanda negeri itu.
Seperti dilansir Daily NK, meningkatnya popularitas perayaan Hari Ibu di kalangan warga telah mengurangi kultus terhadap pribadi Kim Jong-un yang selama ini diterapkan. Otoritas Korea Utara menegaskan bahwa pemberian karangan bunga, hadiah, dan pesan yang menunjukan rasa kesetiaan serta cinta kepada orang lain selain Kim Jong-un tidak bisa ditoleransi.
"Sangat menyedihkan ketika orang harus mengucapkan terima kasih kepada 'sang ayah' Kim Jong-un hingga setiap hal-hal kecil yang dia lakukan. Tapi kami tidak dapat mengungkapkan ucapan terima kasih kepada ibu kandung kami yang sebenarnya," kata seorang warga di Provinsi Pyongan Selatan kepada kantor berita Yonhap.
Kepada Parlemen, Badan Intelijen Korea Selatan itu juga menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda bahwa Korea Utara tengah mempersiapkan uji coba nuklir atau rudal baru.
"Meski begitu, kami memperkirakan bahwa uji coba nuklir dan rudal baru Korea Utara bergantung pada keputusan pemimpin mereka sehingga berpotensi dilakukan kapan saja," kata NIS. (nat)