Semenanjung Sinai, Wilayah Paling Berbahaya di Mesir

CNN, CNN Indonesia | Minggu, 26/11/2017 05:43 WIB
Semenanjung Sinai, Wilayah Paling Berbahaya di Mesir Semenanjung Sinai. (AFP PHOTO / STRINGER)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan teror terhadap Mesjid Rawdah, Sinai Utara, Mesir yang menewaskan lebih dari 300 orang merupakan insiden paling mematikan dalam sejarah Semenanjung Sinai. Serangan yang diawali dengan bom, sebelum jemaah diberondong peluru oleh milisi diduga dilakukan ISIS.

Menurut laporan yang dilansir CNN, wilayah berbentuk segitiga yang terjepit di antara benua Afrika dan Asia itu penuh kekerasan sejak ISIS mencengkeram kawasan utara semenanjung itu. Tidak hanya menguasai, ISIS pun menginspirasi kelompok-kelompok ekstremis lokal.

Tidak seorang pun mengklaim bertanggung jawab atas serangan seusai salat Jumat yang menewaskan 305 orang, 27 di antaranya anak-anak dan melukai 128 lainnya itu. Namun menurut Kejaksaan Mesir, pelaku penyerangan yang terdiri atas 25-30 orang itu membawa bendera ISIS.
Militansi di Semenanjung Sinai meningkat dramatis sejak penggulingan Presiden Hosni Mobarak pada 2011 di tengah gerakan reformis Arab Spring. Kekerasan milisi kembali meningkat pada 2013, saat pengganti Mobarak, Mohamed Morsi, digulingkan oleh militer. Penggulingan Mursi meninggalkan kevakuman keamanan di Semenanjung Sinai.


Pada 2013, Panglima Militer Mesir Abdel Fattah el-Sisi melancarkan kudeta yang populer dan meluncurkan pemberantasan kelompok ekstremis di Semenanjung Sinai serta wilayah lainnya.

El-Sisi akhirnya pun mundur dari militer dan terpilih sebagai Presiden pada 2014 dengan platform keamanan dan stabilitas. Pemerintah El-Sisi akhirnya menyatakan kelompok Persaudaraan Muslim atau Al Ikhwan Al Muslimun, gerakan Mursi sebagai organisasi terlarang. Langkah itu kian memicu kemarahan banyak kalangan.

[Gambas:Video CNN]

Tindakan keras pemerintah melahirkan banyak gerakan perlawanan setempat dan kelompok-kelompok ekstrem pun bermunculan. Kelompok Wilayat Sinai terbentuk pada saat yang sama dan menyatakan kepatuhan kepada ISIS pada 2014. Kelompok itu bertanggung jawab atas banyak serangan dan ratusan kematian.

Wilayat Sinai juga berperan dalam pengeboman pesawat komersial Rusia, Metrojet pada Oktober 2015 yang menewaskan seluruh 224 penumpangnya.

Kelompok itu biasanya menyerang umat Kristen Koptik dan petugas keamanan. Ekstremis itu juga dibesarkan oleh kebencian Suku Badui Sinai yang merasa diabaikan dan ditinggalkan pemerintah Mesir. Banyak warga Badui Soinai yang tidak punya akses terhadap air bersih atau listrik.
Mayoritas Kepala Suku Badui menentang kekerasan dan melawan kekerasan yang berdalih agama. Banyak di antara mereka yang turut bertempur memerangi IISI, namun beberapa anggota Suku Badui lainnya malah ikut bergabung dengan kelompok ekstremis itu.

Selain itu, kemiskinan juga memberi jalan bagi beragam aktivitas ilegal, seperti perdagangan narkotika dan penyelundupan manusia. Ketiadaan hukum terasa di wilayah utara Semenanjung Sinai, dan memungkinkan Wilayat Sinai beroperasi di sana.

Di tengah gurun di utara, dan pegunungan di sebelah selatan, Semenanjung Sinai, sangat sulit dikendalikan. (nat)