Ke Myanmar di Tengah Krisis Rohingya, Paus Jadi Sorotan

AFP, CNN Indonesia | Senin, 27/11/2017 11:32 WIB
Ke Myanmar di Tengah Krisis Rohingya, Paus Jadi Sorotan Paus Fransiskus terbang ke Myanmar di tengah krisis Rohingya. (Reuters/Aristide Economopoulos | NJ Advance Media/POOL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Paus Fransiskus terbang ke Myanmar pada Senin (27/11) untuk menjalani salah satu kunjungan paling sensitifnya sejauh ini, sementara ketegangan religius merebak di negara berpenduduk mayoritas Buddha yang menjadi sasaran kemarahan karena perlakuan terhadap minoritas Muslim Rohingya itu.

Militer Myanmar dituding melakukan pembersihan etnis terhadap kelompok masyarakat yang tidak diakui oleh negara itu, memicu lebih dari 600 ribu di antaranya melarikan diri ke Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.

Paus Fransiskus akan bertemu dengan Panglima Militer Min Aung Hlaing yang berpengaruh besar di negara itu. Peristiwa pertemuan pemimpin religius yang mengedepankan hak-hak pengungsi dan tokoh yang disebut sebagai dalang pengusiran Rohingya ini jelas akan mengundang perhatian.


Selain itu, Paus juga akan bertemu dengan pemimpin de facto Myanmar yang berasal dari kalangan sipil, Aung San Suu Kyi. Pemenang penghargaan Nobel Perdamaian itu belakangan banyak menerima kritik internasional karena dipandang tak bisa bersimpati terhadap Rohingya.

Umat Katolik Myanmar yang berjumla 700 ribu jiwa--hanya satu persen dari 51 juta penduduk Myanmar--secara umum mempunyai hubungan baik dengan mayoritas Buddha dan antusias menanti kedatangan kunjungan Paus untuk pertama kali dalam sejarah ini.

"Sementara saya bersiap mengunjungi Myanmar dan Bangladesh, saya mengirimkan pesan pertemanan bagi semua orang. Saya tak sabar bertemu kalian!" kata Paus melalui akun Twitter resminya menjelang kunjungan tersebut.
Berbicara di hadapan 30 ribu orang di St Peter's Square, beberapa saat sebelum meninggalkan Roma, dia berkata: "Saya meminta Anda berdoa bersama saya sehingga, untuk orang-orang ini, kehadiran saya merupakan tanda kebersamaan dan harapan."

Paus selama ini selalu berada di barisan depan dalam menyampaikan simpatinya kepada Rohingya, menyebut mereka sebagai "saudara dan saudari" dan menyayangkan ratusan ribu orang anak-anak mesti terseret dalam kekerasan.
Aung San Suu Kyi dikritik karena dipandang tak bisa bersimpati pada Rohingya.Aung San Suu Kyi dikritik karena dipandang tak bisa bersimpati pada Rohingya. (REUTERS/Soe Zeya Tun)
Namun, negara dengan was-was menanti apa yang akan dikatakan Paus di tanah Myanmar, di mana kata Rohingya bisa memicu kemarahan publik yang secara umum mendukung operasi militer tersebut.

Banyak orang di Myanmar tidak memandang masyarakat minoritas itu sebagai warga lokal--merujuk kepada mereka sebagai orang Bangladesh--dan memandang mereka dengan permusuhan.
"Mayoritas warga Myanmar tidak percaya narasi internasional soal penganiayaan Rohingya dan jumlah pengungsi yang kita lihat di Bangladesh," kata analis politik Myanmar, Richard Horsey, dikutip AFP.

"Jika Paus datang dan menekankan soal masalah ini, maka ia akan memicu ketegangan dan sentimen publik."

(aal)