Myanmar Diduga Bunuh Wartawan di Pusat Konflik Rohingya

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 28/11/2017 05:41 WIB
Myanmar Diduga Bunuh Wartawan di Pusat Konflik Rohingya Ilustrasi militer Myanmar. (Reuters/Soe Zeya Tun)
Jakarta, CNN Indonesia -- Militer Myanmar diduga membunuh sejumlah wartawan yang mendokumentasikan kekerasan di Rakhine, di mana penganiayaan terhadap komunitas Muslim Rohingya terus terjadi sejak 2012 lalu.

Mohammad Rafique, pria pengelola portal berita untuk komunitas Rohingya, The Stateless, mengatakan bahwa ketika bentrokan pertama kali pecah pada 2012 lalu, sukarelawan muda secara diam-diam melaporkan kekerasan terhadap minoritas Muslim dengan mengirimkan foto, video, dan klip suara menggunakan ponsel.

Namun sejak saat itu, sekitar 95 persen wartawan lapangan di Rakhine itu menghilang. Kelompok-kelompok pemerhati hak asasi manusia menyatakan, militer Myanmar membunuh dan menculik para reporter itu untuk "menyabotase" jaringan tersebut agar publik tak mengetahui kondisi di Rakhine.
"Pasukan keamanan Myanmar dan milisi di Rakhine telah melakukan pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran di desa Rohingya. Seiring jaringan wartawan Rohingya di Rakhine yang lumpuh, informasi rinci mengenai kekerasan yang diperlukan untuk disebarluaskan ke media kredibel sudah tidak sampai lagi kepada kami," ujar Rafique, Senin (27/11).


"Sebagian besar wartawan media internasional dan aktivis HAM mengumpulkan informasi mengenai kekerasan dan situasi di Rakhine malalu jaringan wartawan lapangan tersebut. Media internasional termasuk media komunitas kami saat ini pun kekurangan informasi dari Rakhine," katanya.

Situasi ini juga membuat sejumlah kelompok pemerhati HAM kesulitan mendapatkan informasi mengenai situasi di Rakhine, termasuk Human Rights Watch.
"Sudah jelas bahwa militer secara sistematis telah menyiksa Rohingya secara kejam. Komunitas Rohingya yang memantau situasi di lapangan pun sudah tidak ada di sana untuk melaporkan keadaan di Rakhine lagi," kata Phil Robertson dari Human Rights Watch kepada The Guardian.

Meski demikian, masih ada reporter yang berjuang melaporkan kondisi di Rakhine. Ko Ko Linn, juru bicara komunitas Rohingya yang berbasis di Bangladesh, mengatakan sekitar 2.000 reporter lepas aktif saat kekerasan di Rakhine pecah pada Oktober 2016 lalu.

"Para wartawan itu mengumpulkan informasi rinci tentang insiden kekerasan di desa-desa Rohingya. Laporan mereka membuat dunia tahu bagaimana sebenarnya pasukan keamanan dan milisi sekutu mereka melakukan persekusi di balik operasi militer mereka," kata Linn.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Noor Hossain, eks reporter Rohingya, mengatakan rekan-rekannya yang masih aktif di lapangan mengambil risiko luar biasa besar untuk mengumpulkan informasi tersebut.

"Kami biasa menyembunyikan diri saat pasukan keamanan mendekati dan menggeledah desa kami. Setelah mereka pergi, kami baru bisa mengumpulkan informasi dan gambar-gambar terkait kekerasan dan pelanggaran lainnya," kata Hossain.

"Pasukan keamanan kerap menargetkan orang-orang yang memiliki ponsel pintar untuk dibunuh," katanya. (has)