Turki Sita Aset Pengusaha Emas yang Tuding Erdogan Bantu Iran

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 02/12/2017 17:18 WIB
Turki Sita Aset Pengusaha Emas yang Tuding Erdogan Bantu Iran Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan disebut terlibat dalam perdagangan emas ilegal dengan Iran. Saksi yang mengungkapkan itu di pengadilan AS, Reza Zarrab, dibidik Pemerintah Turki dalam sebuah penyelidikan. (Foto: AFP PHOTO / ADEM ALTAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Turki tengah menyelidiki sekaligus menyita aset pengusahan emas keturunan Iran-Turki, Reza Zarrab, 34, yang bersaksi di pengadilan di AS tentang keterlibatan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pencucian uang Iran.

Dikutip dari CNN, Sabtu (2/12), Kantor Berita Turki Anodolu Agency melaporkan, Biro Teror dan Kejahatan Terorganisasi dari Kantor Kejaksaan Istanbul saat ini tengah menyelidiki Reza.

Pemerintah kemudian menyita aset milik Reza dan kerabatnya berupa properti, pada Jumat (1/12) waktu setempat. Suami dari penyanyi pop-folk Turki Ebru Gundes itu dinilai membahayakan keamanan Republik Turki dan membantu negara asing.



Pemerintah Turki sendiri mengkritik investigasi yang dilakukan oleh pemerintah AS yang dinilai mencerminkan "konspirasi liar" melawan politikus Turki.

Pada Jumat (1/12), Perdana Menteri Turki Binali Yildirim berharap Zaarab berhenti bekerja sama dengan Kejaksaan AS.

"Kasus pengadilan ini tidak lagi bersifat yudisial dan sepenuhnya telah bersifat politis, dengan tujuan utama menyudutkan Turki dan perekonomiannya dan merusak negara ini," ujar Yildirim.

Sebelumnya, Erdogan disebut bertanggung jawab dalam membantu Iran menghindari sanksi internasional, saat bicara sebagai saksi di Pengadilan Federal New York, AS. Hal itu dilakukan melalui penampungan dana hasil penjualan minyak dan gas bumi Iran oleh perbankan Turki.

Pada pengadilan federal New York, Kamis (30/11), itu, Zaarab menjadi saksi memberatkan atas seorang bankir Turki, Mehmet Hakan Atilla, 47. Nama terakhir diduga melakukan penyelewengan transaksi perbankan dan pencucian uang dengan mengalihkan miliaran dolar AS uang milik pemerintah Iran ke negara lain.


Dalam kesaksiannya, Reza sendiri telah mengaku bersalah atas tindakan penyelewengan transaksi perbankan dan pencucian uang lintas negara itu.

Ketika itu, ia juga menjelaskan secara rinci bagaimana jaringan perusahaan cangkangnya bergantung kepada perbankan Turki untuk mengalihkan uang pemerintah Iran secara ilegal. Modusnya, Reza memalsukan dokumen perdagangan emas dan menyamarkannya dalam bentuk perdagangan bahan makanan antar-perusahaan cangkangnya.

Tentang modus perdagangan emas itu, seperti dikutip dari Reuters, dia mengaku mempelajarinya dari Zafer Caglayan, Menteri Ekonomi Turki. Erdogan dan Menteri Keuangan Turki Ali Babacan disebutnya telah memberi wewenang kepada dua bank Turki, Ziraat Bank dan VakifBank, untuk memindahkan dana bagi Iran.

Perusahan cangkang itu berperan sebagai pemasok, distributor, skelaigus perusahaan pengiriman makanan di Turki dan Dubai.

Penggunaan modus perdagangan pangan itu dipakai untuk menyiasati sanksi terhadap Iran. Sanksi internasional itu masih memperbolehkan Iran melakukan perdagangan makanan.


Namun, alih-alih mengirim bahan makanan perusahaan cangkang tersebut memperdagangkan emas. Uang yang diperoleh dari perdagangan emas tersebut memungkinkan Iran membayar utang internasionalnya. Sayangnya, modus tersebut tak lagi bisa dilakukan sejak pengawasan perdagangan emas internasional semakin ketat.

Perdagangan emas ini merupakan pelanggaran terhadap sanksi internasional yang dijatuhkan AS dan PBB terkait pengembangan senjata nuklir Iran. Karena sanksi tersebut, Iran tidak bisa mengakses uang yang disimpan di sejumlah perbankan dunia.

Reza menyebut, perdagangan samaran itu dilakukannya dengan melibatkan secara langsung Bank Sentral Iran. Ia sendiri mengaku bertemu dengan Gubernur Bank Sentral Iran, Mahmoud Bahmani.

Baik Ziraat Bank maupun VakifBank menolak terlibat dalam skema tersebut. (arh/arh)