Bincang Trump-Abbas sebelum Yerusalem Diakui Ibu Kota Israel

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 13:37 WIB
Bincang Trump-Abbas sebelum Yerusalem Diakui Ibu Kota Israel Donald Trump (kiri) dan Mahmoud Abbas (kanan) sempat berbincang sebelum Yerusalem diakui AS sebagai ibu kota Israel. (REUTERS/Jonathan Ernst)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika memberi tahu soal niatnya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meyakinkan Presiden Mahmoud Abbas bahwa pihaknya tengah menyiapkan rencana perdamaian yang akan menyenangkan warga Palestina.

Panggilan telepon Trump kepada pemimpin Palestina yang dilakukan sehari sebelum pengumuman kebijakan soal Yerusalem ini menunjukkan bagaimana para penasihat Gedung Putih merancang upaya perdamaian di balik layar. Rancangan itu sedianya akan digulirkan di awal 2018, tapi kini diragukan karena gelombang kemarahan terjadi di Timur Tengah.

Warga Palestina menyatakan Amerika Serikat tidak akan bisa berperan sebagai perantara yang baik setelah begitu saja berpihak kepada Israel dalam salah satu sengketa utama dalam konflik. Kini, sejumlah pejabat pemerintah mengatakan mungkin akan ada "masa pendinginan" setelah keputusan kontroversial Trump.


Tim Trump yang dikepalai penasihat senior sekaligus menantunya, Jared Kushner, akan terus mengembangkan rencana sebagai dasar dari negosiasi baru antara Israel dan Palestina, sembari berharap segala kemarahan dan penghentian hubungan diplomatik dengan Palestina akan segera berlalu.

Namun, di tengah protes di sejumlah wilayah Palestina dan ketidakpastian soal sikap Palestina terhadap upaya perdamaian yang tengah berlangsung, salah seorang pejabat AS mengatakan proses itu masih bisa terganggu.

"Jika mereka masih bilang tidak mau bicara, kami tidak akan melakukannya," kata pejabat yang dikutip Reuters pada Jumat (8/12).
Sekutu-sekutu besar Washington, baik dari Arab maupun negara-negara Barat, telah memperingatkan bahwa keputusan Trump soal Yerusalem bisa memusnahkan upaya mencapai perdamaian Israel dan Palestina.

Detail soal kerangka negosiasi itu sendiri masih belum difinalisasi dan sejauh ini masih belum ada tanda-tanda proses yang nyata.

[Gambas:Video CNN]

Namun, para pejabat mengatakan rancangan itu akan menyentuh semua masalah besar, termasuk Yerusalem, perbatasan, keamanan dan masa depan permukiman Yahudi di tanah-tanah jajahannya dan nasib para pengungsi Palestina. Selain itu, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain juga akan diminta menyediakan bantuan finansial signifikan bagi Palestina.

Menurut dua pejabat AS dan dua pejabat Palestina, Trump berupaya untuk meredakan pukulan akibat pengumumannya soal Yerusalem saat berbicara dengan Abbas pada Selasa lalu. Untuk itu, dia menekankan bahwa Palestina akan mendapatkan keuntungan dari rencana perdamaian yang disusun Kushner dan Utusan Timur Tengah AS, Jason Greenblatt.
Walau demikian, Trump tidak menjelaskan detail rancangan perdamian itu kepada Abbas, kata para sumber.

Menjawab Trump, Abbas mengatakan bahwa proses perdamaian apapun mesti bisa memastikan warga Palestina mendapatkan ibu kota di Yerusalem Timur, kata seorang pejabat Palestina. Israel mengambil Yerusalem Timur dalam perang Arab-Israel 1967 silam dan mencaploknya, meski tak diakui oleh masyarakat internasional.

Seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa Trump memberi tahu Abbas dirinya ingin membicarakan masalah-masalah ini secara tatap muka dan mengundangnya ke Gedung Putih. Namun, waktunya masih belum diketahui dengan pasti.

Sementara, Palestina semakin khawatir dicurangi Trump, terutama setelah dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mematahkan kebijakan AS selama beberapa dekade terakhir ini.

(aal)