Demo Anti-Trump Berujung Bentrokan di Luar Kedutaan AS

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 10/12/2017 20:03 WIB
Demo Anti-Trump Berujung Bentrokan di Luar Kedutaan AS Aksi unjuk rasa mendukung Palestina dan memprotes keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. (AFP PHOTO / ANWAR AMRO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aksi demonstrasi untuk memprotes kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel berujung kekerasan di Lebanon. Ratusan demonstran anti-Trump bentrok dengan aparat keamanan Lebanon di luar Kedutaan Besar AS di Beirut, Minggu (10/12).

"Pemrotes, beberapa di antaranya melambaikan bendera Palestina, membakar jalan-jalan dan melemparkan proyektil ke arah aparat keamanan yang membarikade jalanan utama menuju Kedutaan Besar AS di Awkar, sebelah utara Beirut," demikian kabar yang dilansir Reuters, Minggu (10/12).

Pemimpin Partai Komunis Lebanon, Hanna Gharib, di hadapan para demonstran menyatakan bahwa Amerika Serikat adalah 'musuh bangsa Palestina'. Gharib juga menyebut Kedutaan AS sebagai 'simbol agresi penjajah' yang harus ditutup.


[Gambas:Video CNN]

Pada demonstran juga membakar bendera Amerika Serikat dan Israel.

Pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel telah membakar kemarahan dunia Arab dan membuat kesal para sekutu-sekutunya di Barat. Sekutu Trump menganggap langkah Trump telah memadamkan upaya perdamaian dan memicu kekerasan di Timur Tengah.

Sabtu sore, para menteri luar negeri Arab bertemu di Kairo dan mendesak Amerika Serikat mencabut keputusannya lantaran kebijakan itu memicu kekerasan lebih jauh di Timur Tengah.

Israel menyatakan seluruh wilayah Yerusalem adalah ibu kotanya. Adapun Palestina hanya menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota jika mereka merdeka suatu hari nanti.

[Gambas:Video CNN]

Mayoritas negara di dunia menganggap Yerusalem Timur, yang dicaplok Israel dalam Perang Enam Hari pada 1967, adalah wilayah jajahan. Komunitas internasional menegaskan status kota itu harus ditetapkan melalui dialog antara Israel-Palestina.

Pemerintah Lebanon, yang menampung 450 ribu pengungsi Palestina telah mengutuk keputusan Trump. Presiden Lebanon Michel Aoun pekan lalu menyebut langkah Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel adalah ancaman bagi stabilitas kawasan.

Kelompok Syiah yang berpengaruh di Lebanon, Hizbullah menyatakan dukungan bagi perlawanan Palestina terhadap Israel, Kamis (7/12). Pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah juga menyerukan aksi protes menentang keputusan Trump di wilayah yang dikuasai Hizbullah, di selatan Beirut, Senin (11/12). (nat)