Cegah Kawasan Jadi Proksi, RI Didorong Perkuat Militer

Riva Dessthania Suastha , CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 20:16 WIB
Cegah Kawasan Jadi Proksi, RI Didorong Perkuat Militer Kalangan pengamat menilai Indonesia harus mengubah pendekatan militer untuk mencegah kawasan ASEAN menjadi arena perebutan kepentingan negara-negara besar. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) harus bisa memperkuat persatuan antar-negara anggota untuk mencegah kawasan menjadi arena perebutan kepentingan antara negara-negara besar.

“Tahun ini menginjak 50 tahun ASEAN. Salah satu tugas yang harus dilakukan ASEAN adalah mencegah kawasan Asia Tenggara dan ASEAN sendiri menjadi proksi kompetisi kepentingan negara besar,” kata Retno dalam pidatonya saat membuka seminar bertemakan Geo-Political and Economic Shift in Indo-Pacific Region and Indonesian Foreign Policy, di Jakarta, Senin (18/12).

Dalam seminar yang digelar Indonesian Council on World Affairs (ICWA) dalam rangka peringatan 100 tahun Adam Malik, Retno mengatakan bukan hal yang mudah menyatukan seluruh suara dan kepentingan negara anggota ASEAN. Namun, hal itu, paparnya, bisa dilakukan dengan mulai memperjelas posisi negara msing-masing di kawasan.

Sebagai salah satu pendiri ASEAN, kata Retno, Indonesia memiliki pendirian yang kuat dalam memposisikan negara di kawasan, bahkan dunia internasional. Pendirian itu menjadi salah satu hal prinsip yang mesti dimiliki setiap negara dalam menghadapi tantangan dan perubahan di kawasan bahkan global.

“Indonesia harus memahami posisinya di kancah internasional. Memahami posisi negara berarti mengetahui apa kepentingan kita dan bagaimana kita bisa berkontribusi kepada dunia sehingga tidak mudah terbawa arus oleh pihak-pihak lainnya,” kata Retno.


Menanggapi pidato Menlu Retno, Presiden Indonesia Institute of Maritime Studies, Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan sudah saatnya bagi Indonesia mengubah pendekatan pertahannya menjadi lebih ofensif atau menyerang agar bisa menghadapi tantangan dan geo-politik/geo-ekonomi yang terus berubah di kawasan Indo-Pasifik, khususnya Asia Tenggara.

Hal ini, menurut Connie, perlu dilakukan guna mendukung visi Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang mampu mengantisipasi kawasan menjadi arena proksi atau persaingan kepentingan negara besar.

“Indonesia harus sesegera mungkin mengubah pendekatan pertahanan yang selama ini pasif dan cenderung bertahan menjadi lebih dinamis offensive pasive defense. Ini penting mendorong visi sebagai poros maritim dunia dan menghadapi perubahan di kawasan,” kata Connie dalam seminar yang sama.

Sebagai poros maritim dunia, Connie mengatakan, Indonesia perlu memperkuat elemen pertahanan udara dan maritim. Salah satunya dengan meningkatkan aktivitas TNI di di utara dan selatan Indonesia untuk menghadapi setiap ancaman yang timbul dari perairan dan udara.

Analis militer itu menanggapi perubahan geo-politik dan geo-ekonomi yang terjadi menyusul banyaknya pengaruh negara besar yang mencoba terlibat di kawasan strategis ini.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat elemen pertahanan maritim dan udara dari segala penjuru. Baik di Perairan Pasifik, maupun Samudera Hindia.

“Inilah keuntungan sekaligus pekerjaan rumah bagi Indonesia yang berada tepat di antara dua samudera besar,” lanjutnya.

[Gambas:Video CNN]

Peneliti senior Pusat Studi Pertahanan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewi Fortuna Anwar, juga mengingatkan ASEAN untuk mewaspadai permainan dan pengaruh negara besar di kawasan.

Karena letaknya yang strategis, Dewi mengatakan, sejumlah negara besar seperti China, Amerika Serikat, Jepang, Australia, bahkan India mencoba ikut mempengaruhi perubahan geo-politik dan geo-ekonomi di kawasan.

“Kita selama ini sudah lihat banyak kepentingan negara first power, second power, hingga middle power hadir di kawasan [Asia Tenggara]. Lihat saja konflik laut China Selatan. Dinamika hubungan antara negara besar ini bisa mempegaruhi kawasan Indo-Pasifik as a whole, terutama Asia Tenggara secara khusus,” kata Dewi.

Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN ke-50 di Manila, FilipinaFoto: REUTERS/Bullit Marquez/Pool
Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN ke-50 di Manila, Filipina


Selain mengantisipasi, Dewi mengatakan, ASEAN juga harus bisa membuktikan bahwa organisasi regional itu mampu menyelesaikan masalah dan tantangan internal di kawasan. Seperti misalnya, konflik antara sesama anggota ASEAN hingga dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan negara-negara anggotanya.

Ia mengatakan, dengan bertambahnya umur ASEAN, semakin banyak pula pihak yang mengkritik bahwa organisasi tersebut tidak mampu menyelesaikan tantangan dan isu kawasan yang ditimbulkan oleh salah satu anggotanya.

“Banyak pihak yang kecewa dan menganggap bahwa ASEAN tidak punya pendirian tegas menindak negara anggotanya yang melanggar prinsip demokrasi dan HAM piagam ASEAN. Fakta ini menjadikan banyak masyarakat ASEAN skeptis terhadap kapabilitas organisasi regional ini untuk menghadapi tantangan eksternal, terutama kebangkitan China dan perubahan geopolitik lainnya yang tidak menentu saat ini,” kata Dewi.

(nat)