PBB Desak Israel Selidiki Kematian Aktivis Difabel Palestina

Natalia Santi, CNN Indonesia | Rabu, 20/12/2017 09:47 WIB
PBB Desak Israel Selidiki Kematian Aktivis Difabel Palestina Ibrahim Abu Thurayeh, aktivis difabel Palestina yang tewas diterjang peluru tentara Israel. PBB mendesak Israel untuk menyelidiki pembunuhan aktivis dalam aksi demonstrasi di Gaza, Jumat (15/12) itu. (REUTERS/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perserikatan Bangsa-bangsa meminta Israel untuk membuka penyelidikan yang independen dan imparsial atas pembunuhan seorang demonstran difabel Palestina oleh aparat keamanan Israel di Gaza, Jumat (15/12) pekan lalu.

Ibrahim Nayef Ibrahim Abu Thurayeh, 29 tahun,  difabel yang kehilangan kedua kakinya setelah serangan Israel pada 2008, ikut bersama ratusan warga Palestina di Gaza memprotes langkah Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Pembunuhan itu sangat mengejutkan," kata Zeid Ra'ad Al Hussein, Komisioner Hak Asasi Manusia (HAM) PBB dalam sebuah pernyataan seperti dilaporkan kantor berita Turki, Anadolu, Selasa (19/12).


Al Hussein menyatakan Abu Thurayeh berada di antara orang-orang yang berjalan melintasi lahan pertanian seusai Salat Jumat di Gaza, 15 Desember lalu. Dia terjungkal diterjang peluru sekitar 20 meter sebelum menjangkau pagar yang membatasi Gaza dan Israel.

Menurut data PBB,  amunisi tajam telah melukai lebih dari 220 warga Gaza, termasuk 95 orang pada 15 Desember. Puluhan lainnya menderita luka-luka akibat peluru karet.

Komisioner tinggi PBB itu menyerukan agar Israel menghormati standar hukum internasional dalam menggunakan kekuatan, khususnya peluru tajam.

"Fakta yang dikumpulkan staf saya di Gaza menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan melawan Abu Thurayeh adalah berlebihan," kata Al Hussein.

"Tak ada apapun yang menunjukkan bahwa Abu Thurayeh menimbulkan ancaman kematian atau luka serius saat dia dibunuh," kata Al Hussein.

"Mengingat disabilitasnya, hal itu pasti jelas terlihat oleh orang yang menembak dia, pembunuhan dia adalah tindakan yang tidak dapat dipahami, sangat mengejutkan dan aksi yang berlebihan," kata Al Hussein.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya delapan warga Palestina tewas di tangan militer Israel. Lebih dari 550 lainnya luka-luka terkena peluru plastik atau gas air mata.

"Tingginya korban menimbulkan keprihatinan serius apakah kekuatan yang ditunjukkan tentara Israel sesuai dengan ancaman," kata dia.



"Kejadian-kejadian ini, termasuk hilangnya lima nyawa manusia secara menyedihkan berawal dari pengumuman sepihak AS soal status Yerusalem, yang melanggar konsensus internasional dan provokatif," kata Al Hussein.

Ketegangan di wilayah Palestina meningkat sejak Presiden AS Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, 6 Desember. Langkah itu memicu protes di dunia Arab dan muslim, juga dikecam seluruh dunia.

Status Yerusalem telah lama disepakati untuk ditentukan oleh negosiasi damai Israel-Palestina. Keputusan Trump dipandang banyak kalangan telah menelikung pemahaman yang telah lama disepakati dunia.

Yerusalem Timur, yang didambakan warga Palestina sebagai ibu kotanya   jika merdeka, diduduki Israel pada 1967.

[Gambas:Video CNN]

(nat)