Langkah Trump soal Yerusalem, Pengkhianatan pada Palestina

Natalia Santi, CNN Indonesia | Sabtu, 16/12/2017 20:23 WIB
Langkah Trump soal Yerusalem, Pengkhianatan pada Palestina Dubes Palestina untuk China, Fariz Mehdawi (kiri), menyebut keputusan Presiden AS Donald Trump soal Yerusalem adalah penghianatan terhadap Palestina. (ANTARA FOTO/aacc2015/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel adalah pengkhianatan terharap Palestina dan upaya perdamaian Israel-Palestina.  

"Trump mengambill keputusan pekan lalu dengan memberikan para penjajah dengan deklarasi yang serupa, jika tidak lebih buruk, dengan Balfour, Ini adalah langkah berbahaya. Kami tidak akan pernah menerimanya,” kata Duta Besar Palestina untuk China, Fariz Mehdawi menyebut Israel sebagai penjajah dalam wawancara yang dipublikasikan kantor berita Xinhua, Jumat (15/12).

Deklarasi Balfour yang dimaksudkan Mehdawi adalah pernyataan Inggris yang mendukung  didirikannya “Tanah Air bagi orang Yahudi” di Palestina, setelah Perang Dunia Pertama.


Keputusan Trump soal Yerusalem bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). “Dia menghancurkan proses perdamaian, tapi ini tidak akan berdampak pada status yuridis  Yerusalem,” kata mantan Dubes Palestina untuk Indonesia tersebut.

Mehdawi menegaskan pendudukan Israel adalah batu sandungan dalam proses perdamaian Palestina-Israel. Dia menyatakan bahwa Israel harus menarik diri dari tanah Palestina yang didudukinya terlebih dahulu.

Selama Perang Arab-Israel Ketiga pada 1967, Israel merebut wilayah timur Yerusalem dan mengklaim secara sepihak seluruh wilayah Yerusalem.

Sejak itu, Israel membangun kompleks perumahan yang disebut permukiman dan berusaha mengubah demografi Yerusalem.  

"Tak akan ada negara Palestina berdaulat tanpa Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya,” tegas Mehdawi.

Ia menerangkan rakyat Palestina terus berjuang untuk merdeka dengan kedaulatan penuh berdasarkan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Mehdawi juga menyebut Israel sebagai ‘anak manja’ Amerika Serikat.

“Sahabat sejati harus mengatakan yang sebenarnya, bukan membiarkan bertindak semaunya,” kata Mehdawi.

[Gambas:Video CNN]


Dalam wawancara dengan kantor berita China itu, Mehdawi berterima kasih pada pemerintah negara Tirai Bambu atas dukungan yang terus menerus bagi Palestina, baik secara diplomatik, politik, serta bantuan kemanusiaan selama lebih dari 50 tahun terakhir.

Mehdawi juga memuji Presiden China Xi Jinping yang disebutnya ‘walk the talk’,  konsisten antara kata dan perbuatan. Palestina juga menyambut empat poin proposal yang diajukan Presiden Xi dalam pertemuan  dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Beijing, Juli lalu.


Empat poin proposal itu berisi seruan untuk menyelesaikan masalah Israel-Palestina berdasarkan solusi dua negara, menerapkan konsep keamanan bersama yang komprehensif, kooperatif dan berkesinambungan. Juga memperkuat upaya bersama untuk perdamaian, serta mempromosikan perdamaian dengan pembangunan.

Mantan Dubes Palestina di Jakarta tersebut juga berharap masyarakat internasional akan memberikan sinyal kuat bagi Israel dan Amerika Serikat untuk mendukung pembentukan sebuah negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. (kid)