Saudi Diduga Tangkap Masri, Miliader asal Palestina

Reuters , CNN Indonesia | Minggu, 17/12/2017 00:32 WIB
Saudi Diduga Tangkap Masri, Miliader asal Palestina Arab Saudi diduga menangkap Sabih Almasri, miliader keturunan Palestina saat mengadakan perjalanan bisnis ke Riyadh. (AFP PHOTO / JOEL ROBINE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sabih al-Masri, pengusaha paling berpengaruh di Yordania, pemimpin bank terbesar Arab Bank, ditahan di Arab Saudi saat mengadakan lawatan bisnis ke Riyadh.

Penangkapan Masri, yang dikabarkan keluarga dan rekan-rekannya kepada Reuters, menyusul penangkapan besar-besaran terhadap elit Kerajaan Saudi sepanjang sejarah. Kabar itu mengejutkan kalangan bisnis di Yordania dan Palestina, dimana Masri berinvestasi.

Menurut kabar yang dilansir Reuters, miliader keturunan Palestina berkewarganegaraan Arab Saudi itu ditangkap Selasa lalu, seusai memimpin rapat di beberapa perusahaan miliknya.

Masri adalah pendiri Saudi Astra Group, yang memiliki beragam investasi yang luas. Mulai dari agro-industri hingga telekomunikasi, konstruksi hingga pertambangan di seluruh kawasan.

"Masri sedang menuju bandara dan mereka minta dia tinggal lalu menangkapnya," kata sumber yang mengetahui kejadian itu kepada Reuters.

Masri membatalkan janji makan malam, Rabu (13/12) dimana dia telah mengundang  para anggota Dewan Arab Bank dan rekan-rekan bisnisnya.



Menurut Reuters, Masri tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentarnya. Otoritas Saudi tidak merespons permintaan tanggapan mengenai kabar tersebut.

Menurut orang-orang dekatnya, Masri telah diperingatkan untuk tidak bepergian ke Ibu Kota Arab Saudi setelah penangkapan besar-besaran para pangeran SAudi, menteri dan pengusaha pada awal November lalu. "Dia telah menjawab pertanyaan soal usaha dan mitranya," kata sumber yang dekat dengan masalah tersebut.

Motif Politik
Tidak jelas apa alasan penangkapan Masri. Namun sumber politik menduga Arab Saudi mungkin menggunakan dia untuk menekan Raja Abdullah dari Yordania agar tidak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Raja Abdullah tetap hadir dalam KTT yang menghasilkan Deklarasi Istanbul, yang menyatakan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina, perlawanan dari sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menyatakan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Adapun Arab Saudi, yang hubungannya dengan Amerika Serikat kian erat dengan Trump yang bersikap keras terhadap musuh bebuyutannya Iran, mengirim seorang menteri junior dalam KTT OKI.

Masri berasal dari keluarga pedagang asal Nablus, Tepi Barat yang dijajah Israel. Dia meraih keberhasilannya setelah bermitra dengan perusahaan katering Saudi yang. memasok militer AS dalam operasi merebut Kuwait dari Irak pada Perang Teluk 1991.

Laporan soal penahanannya mencuat Kamis lalu di media lokal Yordania. Di negeri itu, Masri berinvestasi miliaran dolar di sektor perbankan dan hotel-hotel.



Dia terpilih sebagai Ketua Arab Bank pada 2012 setelah pemimpin sebelumnya, Abdel Hamid Shoman, dari keluarga pendiri bank tersebut di Yerusalem pada 1930, mengundurkan diri.

Arab Bank, telah terkenal ketahanannya di tengah pergolakan politik di kawasan. Bank tersebut memainkan peranan penting dalam mendukung mantan pemimpin Palestina, mendiang Yasser Arafat selama pergolakan di Timur Tengah.

Bank tersebut beroperasi di 30 negara di lima benua. Memiliki jejaring yang ekstensif di wilayah Palestina dan menjadi bank terbesar di sana. Arab Bank juga memiliki 40 persen saham di bank Arab Saudi, Arab National Bank (ANB).

Masri memimpin konsorsium investor Arab dan Yordania, yang membeli 20 persen saham Arab Bank Group dari kekaisaran bisnis keluarga Hariri dari Lebanon senilai US$ 1,12 miliar Februari lalu.

Dia juga berperan penting dalam kesepakatan penyelesaian litigasi yang diajukan ratusan warga Amerika Serikat 2015. Saat itu, Arab Bank dituduh memberikan layanan finansial di Tepi Barat, yang diduga memfasilitasi militan untuk menyerang Israel.

Ratusan warga AS itu menggugat Arab Bank di bawah Undang-undang Anti-Terorisme AS, yang mengizinkan warga AS mengejar klaim yang berasal dari terorisme internasional.

Masri juga investor utama di wilayah Palestina, dan memiliki saham besar di Paltel, perusahaan shareholding publik, perusahaan swasta terbesar di Tepi Barat.

Keluarga Masri adalah salah satu keluarga terkaya di wilayah Palestina, dengan usaha utama di sektor real estate, hotel dan telekomunikasi setelah mencapai kesepakatan dengan Israel pada 1993.

(nat)