Dubes Mesir Sebut Veto AS soal Yerusalem Langgar Tradisi PBB

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 02:18 WIB
Dubes Mesir Sebut Veto AS soal Yerusalem Langgar Tradisi PBB Massa Aksi Bela Palestina, di Monas, Jakarta, belum lama ini. Sokongan terhadap Palestina juga disampaikan Mesir dan Turki melalui perlawanan terhadap kebijakan AS yang pro-Israel. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Ahmed Amr Ahmed Manned, menganggap langkah Amerika Serikat yang memveto resolusi internasional yang menolak keputusan Presiden Donald Trump mengenai Yerusalem merupakan tindakan yang menyalahi tradisi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Sebab, negara anggota biasanya tidak ikut serta dalam voting dalam masalah yang terkait negara tersebut. Manned pun mengecam veto AS terhadap resolusi itu dan menilai bahwa semestinya Negeri Paman Sam tidak memiliki wewenang memberikan suara, apalagi menggunakan hak istimewanya sebagai anggota tetap DK PBB.

“AS Sebagai pihak yang menjadi objek resolusi semestinya tidak punya hak memberi suara sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang selama ini berlaku di PBB. [Veto AS] ini pelanggaran. Karena itu patut dipertanyakan kenapa AS bisa diberikan suara dalam voting di DK PBB soal resolusi ini,” kata Manned, dalam jamuan makan malam di kediaman Dubes Arab Saudi di Jakarta, Rabu (20/12).
Manned memahami, selama ini PBB memiliki aturan yang melarang negara anggota PBB, termasuk anggota Dewan Keamanan PBB, untuk ikut memberikan suara dalam setiap jajak pendapat/voting mengenai resolusi terkait masalah yang melibatkan negara tersebut.


Karena itu, dia menganggap veto AS itu sebagai tindakan yang tidak adil dan mencerminkan sikap tidak transparan serta ketidakseriusan PBB dalam melaksanakan aturannya.

“Selama ini, AS telah menggunakan 42 hak veto dalam setiap resolusi yng mengecam Israel untuk membela Palestina. Namun, dalam konteks voting awal pekan ini, veto AS tidak dibenarkan karena AS merupakan objek dan persoalan resolusi tersebut,” jelasnya.
Pernyataan itu diutarakan Manned menyusul gagalnya DK PBB mengadopsi sebuah draf resolusi yang diajukan Mesir yang berisi penolakan keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, pada Senin (18/12), karena AS memveto dokumen itu.

Padahal, resolusi itu didukung 14 anggota lainnya, termasuk Rusia dan China. Manned menilai, veto AS itu pun seakan melawan keinginan dan suara mayoritas dunia internasional yang menentang keputusan Washington.

Meski begitu, dukungan komunitas internasional terkait perjuangan Palestina, lanjutnya, belum selesai. Hari ini, Kamis (21/12), resolusi serupa akan disidangkan di Sidang Majelis Umum PBB.

Manned berharap hasil Sidang Majelis Umum PBB akan menorehkan hasil konkret yang mampu memperjelas sikap dunia mengenai keputusan AS soal Yerusalem.

Terpisah, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, Amerika Serikat telah mengisolasi dirinya sendiri dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mengancam negara-negara yang kemungkinan memberikan suara kontra dalam kasus itu pada sidang Majelis Umum PBB.

"Kami mengharapkan dukungan kuat pada pemungutan suara di PBB. Namun, kami melihat bahwa Amerika Serikat, yang ditinggalkan sendirian, sekarang beralih ke cara ancaman. Tidak ada negara terhormat dan bermartabat yang tunduk pada tekanan ini," cetusnya, dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/12).

"Kami ingin Amerika berpaling dari keputusannya yang salah dan tidak dapat diterima ini," kata Cavusoglu. "Insya Allah, kami akan mendorong resolusi Majelis Umum untuk mendukung Palestina dan Yerusalem," imbuh dia.
(arh)