Abbas menekankan bahwa kota suci bagi umat Muslim, Kristiani, dan Yahudi itu tidak sebanding dengan nilai bantuan yang selama ini diberikan Amerika Serikat kepada Palestina.
"Yerusalem adalah ibu kota abadi Palestina dan kota itu tidak diperjual-belikan dengan emas atau miliaran dolar," ucap Abbas melalui juru bicaranya, Nabil Abu Rudeina kepada AFP, Rabu (3/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abbas melalui Rudeina juga menuturkan AS sudah tidak bisa menjadi mediator perdamaian di Timur Tengah sejak Trump memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember lalu.
Menurutnya, Palestina tidak menentang perdamaian dan selalu mendukung jalur dialog untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan dengan Israel.
Lihat juga:Trump Ancam Hentikan Bantuan Buat Palestina |
"Kami tidak menentang untuk kembali bernegosiasi, tapi [negosiasi] harus didasarkan hukum dan resolusi internasional yang telah mengakui negara Palestina dan Yerusalem timur sebagai ibu kotanya," ujarnya.
"Jika Amerika Serikat menginginkan perdamaian dan melindungi kepentingannya, mereka harus mematuhi semua itu."
Melalui Twitter, Trump menyebut Amerika telah mengucurkan dana ratusan juta dolar bagi Palestina setiap tahun, tapi tak kunjung dihargai atau dihormati.
Lihat juga:Israel Kembali Serang Basis Hamas di Gaza |
Selama ini, AS merupakan donatur terbesar Badan PBB urusan Pemulihan bagi Pengungsi Palestina (UNRWA) dengan kucuran bantuan sebesar US$370 juta (Rp5 triliun) pada 2016.
Donald Trump mengancamm akan mencabut bantuan untuk Palestina. (REUTERS/Kevin Lamarque) |
Meski begitu, belum jelas apakah AS mengancam menarik dana bantuannya secara menyeluruh.
Donald Trump mengancamm akan mencabut bantuan untuk Palestina. (REUTERS/Kevin Lamarque)