Eks Kontraktor NSA Mengaku Curi Dokumen Intelijen AS

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Kamis, 04/01/2018 11:17 WIB
Eks Kontraktor NSA Mengaku Curi Dokumen Intelijen AS Eks Kontraktor NSA mengaku telah mencuri dokumen intelijen, aksi pencurian terbesar dalam sejarah Amerika. (REUTERS/Dado Ruvic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), Harold Martin, mengaku bersalah telah mencuri informasi intelijen negara sebanyak 50 terabyte (1 terabyte = 1.024 gigabyte). Insiden ini diperkirakan menjadi pencurian rahasia negara terbesar dalam sejarah Amerika.

Jaksa mengatakan Martin, yang didakwa Februari 2017 lalu, menghabiskan 20 tahun untuk mencuri materi sensitif pemerintah dari komunitas intelijen AS yang berkaitan dengan pertahanan nasional dan menyimpannya di rumahnya di Glen Burnie, Maryland.

Pihak berwenang mengatakan bahwa mereka juga telah menyita puluhan terabyte dokumen negara dari rumah Martin. Sampai saat ini, Gedung Putih belum menjelaskan apa yang dilakukan Martin dengan dokumen rahasia sebanyak itu.


Surat dakwaan juga menuding Martin mencuri sejumlah informasi rahasia dari Komando Siber AS, Badan Intelijen Pusat AS (CIA), dan National Reconnaissance Office.


Karena tindakannya, Martin dihadapkan ancaman 10 tahun penjara. Sebagaimana dikutip Reuters, sampai saat ini, pria itu belum mengajukan pembelaan sehingga jaksa penuntut masih akan mendakwa Martin dengan 19 tuntutan lainnya.

Martin tengah bekerja untuk Booz Allen Hamitlon Holding Corp saat dia ditahan Agustus 2016 lalu. Martin merupakan seorang kontraktor swasta bagi setidaknya tujuh perusahaan. Dia juga telah bekerja untuk beberapa instansi pemerintah sejak 1993 lalu setelah empat tahun mengabdi di Angkatan Laut AS.

Posisinya membawa Martin terlibat dalam sejumlah proyek sangat rahasia sehingga memberikannya akses serta kelonggaran pengamanan untuk masuk sistem komputer pemerintah. Hak istimewa itu juga memberikan dirinya akses ke setiap dokumen rahasia negara.

Hingga kini, kuasa hukum Martin belum memberi tanggapan soal proses hukum kliennya tersebut.

Menurut dokumen pengajuan gugatan, pengakuan Martin dijadwalkan berlangsung dalam persidangan di pengadilan federal Baltimore 22 Januari mendatang. Martin dituntut tuduhan retensi informasi pertahanan nasional yang disengaja.

Insiden pencurian rahasia negara ini bukan yang pertama kali terjadi di AS, khususnya NSA. Pada November lalu eks pegawai NSA, Nghia Hoang Pho, divonis bersalah karena secara ilegal mengambil informasi rahasia yang akhirnya dicuri oleh peretas Rusia.

Salah satu kasus yang paling mencuri perhatian adalah yang terjadi pada Edward Snowden. Eks pegawai NSA dan CIA itu membocorkan sekumpulan file rahasia ke media pada 2013 lalu. Informasi itu mengungkapkan operasi pengawasan domestik dan internasional yang ekstensif yang selama ini dilakukan oleh NSA.

(nat)