Korut Terima Tawaran Korsel Gelar Pertemuan Tingkat Tinggi

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 05/01/2018 09:59 WIB
Korut menerima tawaran dari Korsel untuk mengadakan perundingan tingkat tinggi untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Pertemuan digelar 9 Januari mendatang. Ilustrasi. (Thinkstock/SteveAllenPhoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara menerima tawaran dari Korea Selatan untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi dalam rangka memperbaiki hubungan kedua negara.

"Korea Utara pagi tadi mengirimkan pesan kepada pihak kami, mengatakan bahwa mereka menerima tawaran Korsel untuk mengadakan pertemuan pada 9 Januari," ujar juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Baek Tae-hyun, Jumat (5/1).

Sebagaimana dilansir AFP, pertemuan akan dihelat di Panmujon, desa yang terletak tepat di dalam zona demilitarisasi (DMZ) di antara kedua negara.
Baek mengatakan, agenda penting dalam pertemuan ini mencakup Olimpiade Musim Dingin dan "isu yang memperkuat hubungan antar-Korea."


Pertemuan ini dianggap sebagai simbol keinginan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un, untuk memperbaiki relasi dengan Korsel yang memanas akibat isu rudal dan nuklir Pyongyang sepanjang tahun lalu.

Keinginan ini disampaikan dalam pidato awal tahun Kim yang juga menyiratkan keinginan Korut untuk ikut serta dalam Olimpiade Musim Dingin yang akan digelar di Pyeongchang mulai 9 Februari mendatang.
Tak lama setelah Kim menyampaikan pidatonya, Presiden Korsel, Moon Jae-in, menyatakan kemungkinan untuk menggelar dialog dengan Korut.

Sejak naik takhta tahun lalu, Moon memang menempatkan perbaikan hubungan dengan Korut dalam daftar teratas agenda politiknya.

Sebelumnya, Moon sudah menawarkan dialog serupa, tapi Korut tak menanggapinya hingga melewati tenggat waktu.

[Gambas:Video CNN]

Nada positif dari para pemimpin ini dianggap sebagai pertanda baik untuk melanjutkan perundingan tingkat tinggi kedua negara yang terakhir kali dihelat pada 2015 lalu.

Meski mengawali tahun ini dengan nada positif kepada Korsel, Kim tetap menyatakan bahwa dia siap menekan "tombol nuklir" jika AS tetap mengancam negaranya.

Sejumlah pakar pun memandang pidato Kim jelas merupakan upaya untuk menjauhkan Korsel dari sekutu utamanya, AS , yang tengah memimpin kampanye internasional untuk menekan Korut melalui sanksi. (has/has)