Proposal Energi Eropa Hapuskan Biodiesel dari Sawit

Natalia Santi | CNN Indonesia
Kamis, 18 Jan 2018 08:57 WIB
Para politisi Uni Eropa mengesahkan rancangan proposal energi yang menghapus penggunaan biodiesel dari kelapa sawit, Rabu (17/1). Para politisi Uni Eropa mengesahkan rancangan proposal energi yang menghapus penggunaan biodiesel dari kelapa sawit, Rabu (17/1). (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para politisi Uni Eropa mengesahkan rancangan proposal energi yang menghapus penggunaan biodiesel dari kelapa sawit, Rabu (17/1).

Seluruh politisi Uni Eropa mendukung "Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources" dalam pemungutan suara di kantor Parlemen Eropa, Strasbourg, Prancis, Rabu (17/1).

Proposal energi tersebut mengatur bahwa energi terbarukan akan digunakan sedikitnya 35 persen dari keseluruhan penggunaan energi Eropa pada 2030. Termasuk ketentuan bahan bakar dari energi terbarukan, yang membatasi bahan bakar dari makanan dan tanaman yang dituding menyebabkan penggundulan hutan dan kenaikan harga pangan, yaitu kelapa sawit.

Larangan tersebut dikecam Indonesia. Lewat rilis sebelum pemungutan suara, Jumat (12/1) pekan lalu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussels, Belgia.

[Gambas:Video CNN]

Indonesia berpandangan bahwa usulan Komite Lingkungan Hidup (ENVI) Parlemen Eropa tersebut bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas dan adil dan menjurus kepada terjadinya diskriminasi “crop apartheid” terhadap produk sawit di Eropa.

"Indonesia telah mengadvokasi pentingnya kelapa sawit sebagai salah satu elemen utama dari kepentingan nasional Indonesia, terutama karena menyangkut kesejahteraan 17 juta warga Indonesia, termasuk petani kecil, yang bergantung secara langsung maupun tidak langsung dari industri kelapa sawit," demikian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussels lewat rilisnya.

Dalam ASEAN-EU Summit di Manila, November 2017, Presiden Joko Widodo menegaskan agar praktek diskriminasi dan kampanye hitam terhadap kelapa sawit Indonesia dihentikan, terutama di Eropa.

Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi juga menekankan adanya keterkaitan erat antara kelapa sawit dan upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia, sesuai dengan aspirasi dalam komitmen SDGs 2030.

Dalam pidato tahunannya, Menlu Retno menyatakan Indonesia tidak akan diam menghadapi kampanye negatif dan diskriminasi di Eropa dan Amerika Serikat terhadap kelapa sawit.

"Indonesia akan terus mengintensifkan langkah melawan kampanye hitam serta terus mempromosikan sustainable palm oil dan pencapaian SDGs," kata Retno dalam pidato tahunan di Kementerian Luar Negeri, Selasa (9/1).

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, juga menegaskan bahwa langkah menolak produk kelapa sawit bisa mengganggu hubungan kerja sama ekonomi Indonesia–UE. Terutama di tengah guliran perundingan Indonesia – EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I – EU CEPA).    

Selain Indonesia, pemerintah Malaysia juga mengecam larangan kelapa sawit dari Uni Eropa tersebut. "Pemungutan suara oleh Parlemen Uni Eropa yang mengecualikan kelapa sawit dari bahan bakar bio yang digunakan Uni Eropa di masa depan adalah blokade tak adil terhadap petani, keluarga dan rakyat Malaysia," kata pemerintah Malaysia seperti dilansir Reuters.

Berdasarkan proposal energi tersebut, bahan bakar bio yang terbuat dari makanan dan tanaman tidak boleh melebihi tujuh persen dari semua bahan bakar transportasi.

[Gambas:Video CNN]

Proposal energi Uni Eropa disambut oleh kelompok aktivis Transportasi dan Lingkungan Eropa. "Pemungutan suara hari ini mengirim pesan jelas kepada industri bahan bakar bio bahwa pertumbuhan hanya diperoleh dari bahan bakar yang berkelanjutan seperti bahan bakar bio berbasis limbah, bukan dari tanaman pangan," kata Laura Buffet dari kelompok Transportasi dan Lingkungan seperti dilaporkan Reuters.

Adapun Indonesia yang menilai larangan penggunaan kelapa sawit sebagai biodiesel sebagai kampanye hitam dan tindakan diskriminatif, mendesak agar Uni Eropa menghentikan tindakan-tindakan diskriminasi yang mendiskreditkan kelapa sawit.

Indonesia menegaskan bahwa dari segi produktivitas, kelapa sawit jauh lebih efektif daripada minyak nabati lainnya seperti lobak dan minyak kedelai karena menggunakan areal lahan yang lebih sedikit. (nat/nat)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER