Protes Aturan Wajib Berhijab, Perempuan Iran Ditahan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 30/01/2018 17:22 WIB
Protes Aturan Wajib Berhijab, Perempuan Iran Ditahan Ilustrasi. AFP PHOTO / STR
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Iran telah menangkap perempuan kedua yang menggelar aksi protes kewajiban berhijab di muka publik.

Pekan lalu, aparat menahan Vida Movahed, seorang perempuan Iran, yang melepas hijab dan mengibarkan kerundungnya di atas salah satu kotak telepon umum di Jalan Enghelab, Ibu Kota Iran, Teheran.

Identitas Vida diketahui setelah pengacara HAM terkemuka di Iran, Nasrin Stoudeh, mengonfirmasi bahwa perempuan 31 tahun itu telah ditahan akibat aksinya. Melalui akun Facebook, Stoudeh kemudian mengatakan Vida telah dibebaskan pada Minggu pekan lalu.


Aksi Vida tersebut mendorong solidaritas dari kaum perempuan lainnya.

Pada Senin (29/1), sejumlah gambar yang menunjukkan tiga wanita Iran berdiri di atas kotak telepon di jalanan Teheran beredar di media sosial.
 
Gerakan tersebut merupakan salah satu aksi solidaritas kaum wanita di negara Timur Tengah itu menentang aturan negara yang mengharuskan mereka menutup kepala hingga ujung kaki mereka kecuali wajah.

Kepada The Guardian, Stoudeh mengatakan wanita kedua yang menggelar aksi serupa telah ditahan sekitar pukul 11.00 pagi waktu Teheran pada awal pekan ini.



Dua wanita lainnya yang ikut merekam aksi solidaritas itu juga ikut ditangkap meski belum jelas apakah akhirnya mereka juga ikut ditahan.

Sejumlah gambar yang diunggah di medsos menunjukkan bahwa perempuan yang ditahan itu adalah Narges Hosseini yang mengenakan gelang tangan hijau  aksi Revolusi Hijau 2009 lalu.

"Pesannya jelas bahwa perempuan sudah muak dengan aturan berhijab secara paksa. Biarkan wanita memutuskan sendiri mengenai tubuh mereka sendiri," kata Stoudeh.

Vahid Online, salah satu saluran populer di Telegram, media sosial terpopuler di Iran, ikut mengunggah serangkaian gambar yang menunjukkan sejumlah wanita lainnya melepas hijab dan mengibarkannya dengan tongkat.

Salah satu gambarnya menunjukkan satu buket bunga diletakkan di atas boks telepon umum tempat Vida dan Narges menggelar aksi protes dan kemudian ditangkap.

Aksi protes Vida dan Narges ini bertepatan dengan gelombang protes yang merebak di seluruh penjuru negeri Iran. Meski beberapa protes tidak secara langsung berkaitan, namun aksi kedua perempuan itu dianggap mewakili aspirasi pemuda Iran yang frustasi akibat terbatasnya kebebasan sosial dan politik.

Banyak pemuda Iran, termasuk laki-laki, mengubah gambar profil media sosial mereka menjadi gambar aksi protes Vida.

Iran merupakan salahs atu negara yang menerapkan aturan hukum Islam yang ketat. Wanita diwajibkan mengenakan jilbab atau penutup kepala sejak Revolusi 1979 lalu.

Terlepas dari ketakutan akan hukuman dan sanksi, jutaan wanita di Iran menentang pembatasan berpakaian setiap harinya.

Hingga kini, semakin banyak wanita, terutama yang tinggal di Ibu Kota Teheran, menolak mengenakan bahkan saat mengemudi dengan alasan bahwa mobil merupakan tempat pribadi di mana mereka bisa berpaikan lebih leluasa.

Isu ini kian menonjol dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui kampanye My Stealthy Freedom yang digaungkan aktivis Masih Alinejad. Melalui Facebooknya, gerakan tersebut mengundang wanita di Iran memasang foto tanpa jilbab atau hijab.

Alinejad juga merupakan aktivis dibelakang gerakan White Wednesday, sebuah kampanye yang mendorong wanita Iran mengenakan hijab berwarna putih dan melepaskannya sebagai bentuk protes terhadap aturan pemerintah.

"Aturan mengenakan hijab secara paksa adalah simbol penindasan yang paling terlihat terhadap wanita di Iran. Jadi memperjuangkan kebebasan untuk memakai atau tidak memakai hijab adalah langkah awal menuju kesetaraan sepenuhnya," ucap Alinejad.



"Para wanita tidak memprotes soal sepotong kain, ini tentang identitas, harga diri, dan kebebasan memilih kami. Tubuh kami adalah pilihan kami," lanjutnya.

Sementara itu, seorang netizen Iran menanggapi perihal aksi protes yang menentang aturan paska untuk berhijab. Melalui Twitter, Zahra Safyari, seorang wanita Iran, mengatakan bahwa dirinya mengenakan hijab karena keinginan diri sendiri dan bukan paksaan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

"Saya memakai cadar dan hijab karena pilihan saya, bukan paksaan dari keluarga atau lingkungan sosial, apalagi tempat kerja. Saya senang dengan pilihan saya ini, tapi saya menentang aturan paksa mengenakan hijab. Maka dari itu saya menghargai aksi Girls of Enghelab Street. Agama dan jilbab seharusnya tidak diwajibkan," kata Safyari.

[Gambas:Video CNN] (nat)